MALUKU, RN Today.com – Aksi penolakan terhadap rencana penutupan aktivitas Galian C di Kota Ambon mencuat ke ruang publik. Forum Komunikasi Peduli Maluku (FGPM) bersama puluhan sopir dump truck menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Kota Ambon, Jumat (23/01/2026), sebagai bentuk protes atas tekanan sejumlah aktivis yang dinilai mengancam keberlangsungan mata pencaharian ratusan warga.
Dalam aksi tersebut, Ketua FGPM Maluku menegaskan bahwa wacana penutupan Galian C tidak bisa dilihat secara sepihak tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan. Ia menyebut sedikitnya 300 sopir dump truck di Kota Ambon akan kehilangan pekerjaan jika aktivitas tambang material itu dihentikan.
“Kami datang ke DPRD untuk menyampaikan kepedulian atas nasib 300 sopir dump truck. Jika Galian C ditutup, maka ratusan kepala keluarga akan kehilangan sumber penghidupan. Ini bukan isu kecil, ini menyangkut ekonomi masyarakat Kota Ambon,” tegas Ketua FGPM kepada media usai aksi.
Ia juga meminta DPRD Kota Ambon agar bersikap objektif dan tidak tunduk pada tekanan kelompok tertentu yang dinilai hanya membawa kepentingan pragmatis. Menurutnya, polemik Galian C seharusnya diselesaikan melalui pengawasan dan penataan, bukan dengan penutupan sepihak yang berpotensi memperburuk kondisi ekonomi daerah.
“Wali Kota jangan takut dengan tekanan aktivis nau-nau yang hanya pragmatis. Jangan menekan pengusaha untuk tutup. Ini bukan hanya soal pengusaha, tapi soal ekonomi rakyat dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Ambon,” katanya.
FGPM menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas dan keberpihakan terhadap ekonomi rakyat kecil, khususnya para sopir dump truck yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas distribusi material bangunan.
Dalam pertemuan bersama anggota DPRD Kota Ambon, perwakilan sopir dump truck turut menyampaikan keluhan secara langsung. Mereka mengaku resah dengan ancaman penutupan Galian C yang semakin sering digaungkan, tanpa adanya solusi konkret dari pemerintah.
“Kami ini hanya sopir, bukan pemilik tambang. Kalau Galian C ditutup, kami mau kerja apa? Anak-istri kami makan dari mana? Tolong DPRD dengar suara kami, jangan hanya dengar satu pihak,” ungkap salah satu sopir dump truck ke media
Sopir lainnya menambahkan bahwa selama ini mereka siap mengikuti aturan pemerintah, termasuk penertiban jam operasional dan ketentuan teknis lainnya, asalkan aktivitas Galian C tidak ditutup total.
“Kami tidak menolak aturan. Kalau ada yang salah, benahi bersama. Tapi jangan langsung tutup, karena dampaknya kami yang paling pertama kena,” ujarnya.
Aksi demonstrasi tersebut berakhir dengan penyampaian aspirasi resmi kepada DPRD Kota Ambon. FGPM dan para sopir dump truck berharap DPRD dapat memfasilitasi dialog antara pemerintah provinsi, pelaku usaha, aktivis, dan masyarakat terdampak, agar polemik Galian C tidak berujung pada krisis sosial dan ekonomi di Kota Ambon
Editor : RN BR03