OPINI

Bergulir Kepentingan di balik Sekelompok Aktivis Menjadi Corong Elit

Share Berita

Maluku, RN Today.com – Ditengah gelombangnya peradaban, sejarah tidak mengabaikan perkembangan ilmu pengatahuan yang terus melosot cepat. Gagasan yang meraksasa lahir dari rahim para pemikir dan filsuf yang pemikirannya membumi dikemas dan dijadikan sebagai bahan pembelajaran. Pada tahun 1956 C. Wright Mills penggagas konsep tentang Power Elit (Sekelompok kecil pemimpin dipuncak institusi politik). Sumbangsih gagasan ini pada subtansinya membagi kekuasan dalam tiga institusi dominan. militer, korporasi dan pemerintahan, relasi tiga institusi yang berkerjasama dan memiliki peran strategis dalam mendominasi kekuasaan, pemikiran ini kemudian menggema di Amerika dan banyak di minati oleh pembaca.

Romo Manguwijaya ‘’Intelektual Kelas Kambing’’ kritik tajam terhadap sekelompok Intelektual yang menghamba pada kekuasaan

Merujuk pada dua Pemikir diatas C. Wright Mills dan Romo Manguwijaya penulis mencoba menguraikan dengan jelas bahwa peran Power elit sangat strategis pada perkembangan suatu bangsa mereka mendominasi kekuasaan dengan tiga institusi seperti salah satunya yaitu korporasi (bisnis) dengan kontrak kepentingan aktivis bisa menggadaikan idealismenya dan menonjolkan jiwa pragmatisnya. Hal ini tidak terlepas dari gagasan Romo Manguwijaya ‘’Intelektual Kelas Kambing’’ kaum cerdik yang mengembek pada tuannya

Problem diatas jika di kontekstualkan pada era kontemporer ini banyak sekali aktivis pesanan yang berkembang biak dan telah bersarang disetiap kampus maupun kota. Peristiwa semacam ini saya juga mengalaminya, narasi-narasi kritis yang dilayangkan oleh demonstran hanyalah narasi simbolik, teriakan keadilan hingga suara berserak atau menulis dengan kritikan yang tajam hingga tangan dan pikiran tampa mampu berfikir. 50 % tidak memperjungankan nilai-nilai kebenaran, hanya berteriak dan menulis dengan motivasi yang satu mendapatkan keuntungan, dari fenomena sosial ini saya memberi gelar pada aktivis semacam ini sebagai (aktivis pesanan) karena Para aktivis pesanan ini di kendalikan oleh sekelompok elit yang menjadikan mereka sebagai instrumen untuk menutupi kesalahan dan melancarkan kepentingan.

Instrumen Para Politikus
Pada Era Kontemporer ini pula diperhadapkan dengan era distraksi digital demikian juga arus informasi yang cepat mengalir, sering kali di suguhkan dengan berbagi macam informasi kritis yang dilayangkan di media sosial melalui sekelompok manusia yang menamakan diri mereka sebagai mahasiswa yang konon katanya bergelar aktivis. Mahasiswa atau kaum intelektual yang ada pada era sekarang ini telah menenggelamkan moralitas dan mengedepankan intelektual sebagai senjata untuk memanipulasi kebohongan menjadi kebenaran. Sekelompok mahasiswa yang Berkedok aktivis ini sering kali pula dijadikan sebagai senjata untuk mengkritisi lawan politik, dengan dalil kebenaran dibawah lindungan demokrasi. Demonstrasi dan tulisan berwajah kritis ini akan berakhir di ruang tukar tambah

Tukar tambah kepentingan
Membentuk kesadaran melawan dominasi ideologi melalui perjuangan kaum intelektual sebagai mitra kritis dan fungsi sosial, nalar kritis yang dibangun tidak dengan landasan falsafah kebenaran tapi instrumen untuk memorgoki lawan politik. (Tukar tambah kepentingan) dari persoalan diatas dapat kita simpulkan bahwa aktivis pesanan ini telah menjerumuskan diri pada ruang korupsi. Mereka tidak berbicara perihal kepentingan rakyat tetapi bersistem contrak dengan para elit

Kepentingan versus kebutuhan
Peristiwa demonstrasi dan tulisan-tulisan kritis yang dilayangkan pada lembaga institut sebagai pengambil kebijakan. Sering kali ditunggangi oleh elit-elit politik demonstrasi berakhir tampa penyelesain, masa aksi hanya di mobilisasi mengikuti perintah senior tampa memahami isu. Disinilah peran kebutuhan senior, junior dan elit. Menggarap keuntungan besar dalam peristiwa semacam ini adalah para elit yang berperan sebagai sutradara, mahasiswa hanyalah dijadikan sebagai pemeran yang mendapatkan keuntungan akan kebutuhan sesuai perannya

Demikian penulis memiliki kesadaran sebagai kaum intelektual organik yang akan terus pada fase untuk mengkritisi setiap kebijakan para politikus, dan membongkar rahasia kebobrokan yang terselip di sudut manapun. Fenomena aktivis sebagai corong elit tidak lagi menjadi isu Baru yang terdengar, tapi telah menjadi virus yang mewabah. Dari rangkaian problem sosial diatas dapat kita menjadikannya sebagai ibrah dalam kehidupan sosial dan terkhusus untuk mahasiswa dan aktivis agar menjadi kajian kritis serta kesadaran kolektif

Penulis. Karwan Rumau., SH
Wakil Sekretaris IMM Maluku

Editor : RN BE02

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *