KESEHATAN PENDIDIKAN

Dekat Masjid, Buang Limbah Sembarangan: Dapur MBG Galunggung Perlu Dievaluasi Total

Share Berita

Ambon, RN today.com – Keberadaan dapur MBG di Desa Galunggung, Kota Ambon, justru memperlihatkan ironi besar dalam program yang sejatinya bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak bangsa. Dari sisi penataan lokasi, dapur tersebut berdempetan langsung dengan dinding pagar masjid, sebuah ruang ibadah yang seharusnya steril, nyaman, dan terbebas dari pencemaran bau maupun limbah. Kondisi ini sejak awal sudah menunjukkan ketidakpatuhan terhadap prinsip zonasi dan sanitasi lingkungan.

Selama hampir dua bulan terakhir, jamaah masjid dan warga sekitar harus menanggung dampak berupa bau tak sedap dari buangan air limbah dapur. Bau tersebut bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga menjadi indikator kuat adanya masalah pada sistem drainase dan pengolahan limbah cair. Dalam standar kesehatan lingkungan, dapur pengolahan makanan skala besar wajib memiliki instalasi pengolahan limbah (IPAL) yang memadai, bukan sekadar selokan biasa.

Memang benar, setelah adanya keluhan warga, pihak pengelola sempat melakukan perbaikan pada saluran pembuangan. Namun fakta bahwa uap dan bau masih tercium, terutama saat musim panas, menandakan bahwa perbaikan tersebut bersifat tambal sulam, bukan solusi struktural. Bau yang tersisa menunjukkan proses pembusukan sisa organik yang masih berlangsung—sebuah tanda pengelolaan limbah yang tidak tuntas.

Lebih memprihatinkan lagi, informasi warga menyebutkan bahwa sisa makanan kerap dikumpulkan dalam kantong plastik besar, lalu dibuang ke tempat sampah, bahkan sebagian diduga dibuang ke alur atau jurang yang jaraknya sangat dekat dengan lokasi dapur. Praktik ini jelas bertentangan dengan prinsip higiene dan sanitasi pangan, serta berpotensi mencemari tanah, air, dan udara di sekitar pemukiman.

Dalam standar dapur sehat, sisa makanan harus dikelola secara tertutup, terpisah, dan terjadwal, tidak boleh menjadi sumber bau atau vektor penyakit seperti lalat dan tikus. Apalagi dapur MBG memproduksi makanan untuk anak-anak—kelompok paling rentan terhadap kontaminasi bakteri dan penyakit berbasis lingkungan.

Persoalan ini juga menyentuh aspek keamanan pangan (food safety). Lingkungan dapur yang tercemar bau limbah, drainase bermasalah, dan pengelolaan sampah yang tidak disiplin dapat berdampak langsung pada kualitas makanan yang diproduksi. Gizi tidak hanya soal kandungan nutrisi, tetapi juga soal kebersihan dan keamanan.

Karena itu, dapur MBG di Galunggung wajib dievaluasi secara menyeluruh oleh dinas terkait—baik Dinas Kesehatan, Lingkungan Hidup, maupun instansi pengawas program MBG. Evaluasi harus mencakup kelayakan lokasi, sistem drainase, pengolahan limbah, manajemen sampah, hingga jarak aman dari fasilitas umum dan rumah ibadah.

Ini bukan soal menjatuhkan usaha, tetapi soal tanggung jawab moral dan konstitusional. Program gizi anak bangsa tidak boleh dijalankan dengan mengorbankan kesehatan lingkungan dan kenyamanan warga. Jika dapur yang mengolah makanan anak-anak justru menciptakan sumber pencemaran, maka ada masalah serius dalam pengawasan dan standar pelaksanaan.

Singkatnya, gizi anak bangsa tidak boleh lahir dari dapur yang tidak sehat. Negara hadir bukan hanya memberi makan, tetapi memastikan bahwa makanan itu diproduksi secara higienis, manusiawi, dan beradab.

Editor : RN BE02

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *