Oleh: Isti Nur Laili Sanggel
Maluku, RN Today.com – Latar Global dan Posisi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi global 2024–2025 diproyeksikan melemah ke kisaran sekitar 3,2 persen akibat suku bunga tinggi, gangguan rantai pasok, proteksionisme, dan tensi geopolitik. Kondisi ini menekan permintaan ekspor negara berkembang, aliran investasi, dan stabilitas pasar keuangan internasional.
Di tengah situasi tersebut, ekonomi Indonesia masih tumbuh sekitar 4,8–5 persen pada awal 2025, meski menunjukkan gejala perlambatan dibanding tahun sebelumnya. Pemerintah dan lembaga internasional beberapa kali menyebut Indonesia sebagai “bright spot” karena fondasi makro yang relatif kuat, seperti inflasi terkendali, defisit fiskal terjaga, dan cadangan devisa yang memadai.
Tantangan Utama Ekonomi Global bagi Indonesia.
1. Perlambatan ekonomi negara maju dan Tiongkok mengurangi permintaan ekspor Indonesia, terutama komoditas dan produk manufaktur, sehingga menekan kinerja neraca perdagangan dan pertumbuhan PDB.
2. Suku bunga global yang tinggi memicu volatilitas arus modal dan nilai tukar, menambah risiko bagi stabilitas sektor keuangan dan pembiayaan defisit.
3. Ketegangan geopolitik dan perang tarif mengubah peta rantai pasok global, meningkatkan biaya logistik dan menciptakan ketidakpastian bagi pelaku usaha.
4. Perubahan iklim, krisis energi, dan kerentanan pangan global berdampak pada inflasi domestik, khususnya pada kelompok pangan dan energi, sehingga menggerus daya beli rumah tangga berpendapatan rendah.
Dampak pada Sektor Riil dan Keuangan Domestik.
Sektor UMKM dan pembiayaan usaha kecil-menengah menjadi salah satu yang paling rentan saat krisis global, karena bank cenderung lebih selektif menyalurkan kredit di tengah meningkatnya risiko. Di sisi lain, sektor keuangan menghadapi volatilitas pasar saham dan risiko tekanan pada reksa dana, termasuk reksa dana syariah yang sensitif terhadap gejolak ekonomi dunia.
Di sektor riil, industri manufaktur dan pertanian tertekan oleh fluktuasi harga komoditas, perbedaan regulasi perdagangan, serta kompetisi ketat di pasar internasional, namun masih menyimpan peluang besar jika mampu meningkatkan daya saing dan kualitas produk. Sementara itu, konsumsi rumah tangga yang menjadi motor utama PDB juga mulai melambat akibat tekanan inflasi dan ketidakpastian pendapatan.
Strategi Pemerintah Menghadapi Gejolak Global.
Pemerintah menyiapkan bauran kebijakan fiskal dan struktural untuk menjaga ketahanan ekonomi di tengah guncangan global, antara lain dengan menjaga disiplin APBN, memperluas jaring pengaman sosial, dan melanjutkan program pemulihan ekonomi nasional. APBN diarahkan tetap ekspansif namun terukur, menjadi shock absorber melalui belanja produktif di infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial.
Di sisi sektor riil, pemerintah mendorong hilirisasi sumber daya alam, penguatan industri 4.0, dan pengurangan ketergantungan impor dengan memperkuat kapasitas produksi dalam negeri. Strategi lain adalah memperluas pasar ekspor nontradisional, memperkuat kerja sama bilateral dan regional, serta memanfaatkan momentum ekonomi digital dan ekonomi syariah untuk membuka sumber pertumbuhan baru.
Peran UMKM, Digitalisasi, dan Ekonomi Hijau.
UMKM tetap menjadi penopang penting ketahanan ekonomi Indonesia, terbukti mampu bertahan dalam beberapa episode krisis sebelumnya. Untuk itu, pemerintah dan otoritas keuangan mendorong perluasan akses pembiayaan, pemanfaatan fintech, dan peningkatan literasi keuangan agar UMKM lebih siap bersaing di pasar global.
Selain itu, transformasi digital dan pengembangan ekonomi hijau menjadi bagian strategis dari respons terhadap dinamika global, baik untuk meningkatkan efisiensi, memperluas pasar, maupun memenuhi standar keberlanjutan internasional. Penguatan tata kelola global (global governance) pascapandemi dan keterlibatan aktif Indonesia di forum internasional juga penting untuk mengamankan kepentingan nasional di tengah perubahan arsitektur ekonomi dunia.
Penulis adalah peserta LK III Advance Trainining Nasional BADKO HMI Papua Barat-Papua Barat Daya
Editor: RN BR03