EKONOMI PERIKANAN SOSIAL

Peran Besar yang Tak Terlihat, Nelayan Perempuan di Tengah Gelombang Zaman.

Share Berita

Oleh : Sudarmono, M.Tr. Pi.

Redaksi NEWS Today.com – Memperingati Hari Nelayan Perempuan Internasional 8 Februari 2026, nelayan perempuan berdiri di garis depan bekerja, bertahan, dan menopang kehidupan, dalam situasi yang tidak sederhana. Perubahan iklim makin terasa, cuaca laut kian sulit diprediksi, harga kebutuhan pokok terus naik, sementara kehidupan masyarakat pesisir masih berada di batas paling rentan.

Hari ini, nelayan perempuan tidak hanya berhadapan dengan persoalan tradisional seperti keterbatasan modal dan akses pasar, tetapi juga dengan tantangan baru: krisis iklim, fluktuasi harga ikan, digitalisasi yang belum merata, serta minimnya perlindungan sosial. Namun ironisnya, peran mereka masih kerap dipandang sebagai pekerjaan “tambahan”, bukan sebagai bagian inti dari sektor perikanan.

Bekerja Lebih Keras Menghadapi Krisis Iklim dari Pesisir

Perubahan pola musim membuat hari melaut semakin tidak pasti. Saat nelayan laki-laki terpaksa mengurangi waktu melaut karena gelombang tinggi atau cuaca ekstrem, perempuan nelayan menanggung beban ganda. Mereka mencari cara agar dapur tetap mengepul: mengolah ikan menjadi produk bernilai tambah, membudidayakan rumput laut, menjual hasil laut skala kecil, hingga berutang demi kebutuhan keluarga.

Dalam banyak komunitas pesisir, perempuan nelayan kini menjadi penyangga utama ekonomi rumah tangga, sekaligus pengelola risiko ketika laut tidak bersahabat. Namun, kerja keras ini masih jarang tercermin dalam data resmi, program bantuan, maupun kebijakan perikanan.

Tidak Terlihat dalam Sistem, Paling Terasa Dampaknya

Salah satu persoalan mendasar nelayan perempuan hingga hari ini adalah ketiadaan pengakuan formal. Banyak dari mereka tidak tercatat sebagai nelayan, sehingga: Tidak memiliki akses asuransi nelayan, Sulit mendapatkan bantuan alat, modal, dan pelatihan, Terpinggirkan dari proses pengambilan keputusan.

Padahal, di tengah dorongan pembangunan perikanan berkelanjutan, tanpa melibatkan nelayan perempuan, kebijakan akan selalu timpang. Mereka bukan hanya pelaku ekonomi, tetapi juga penjaga pengetahuan lokal, pengelola pangan keluarga, dan aktor penting keberlanjutan pesisir.

Perempuan Nelayan Pesisir dan Ketahanan Pangan Nasional

Dalam situasi global yang tidak stabil, ketahanan pangan menjadi isu strategis. Ikan dan hasil laut adalah sumber protein utama masyarakat Indonesia, dan nelayan perempuan memegang peran kunci dalam memastikan pangan itu tersedia, terjangkau, dan bergizi.

Mulai dari pengolahan ikan, pengeringan, pengasapan, hingga distribusi skala lokal, perempuan nelayan menjaga agar hasil laut tidak terbuang dan tetap bernilai. Mereka adalah penghubung antara laut dan meja makan masyarakat.

Momentum Bukan Sekadar Mengingat

Hari Nelayan Perempuan Internasional 2026 seharusnya menjadi momentum perubahan nyata. Bukan hanya ucapan selamat, tetapi langkah konkret: Pengakuan status nelayan perempuan secara hukum dan administrasi, Kebijakan perikanan yang adil dan inklusif gender, Akses setara terhadap pembiayaan, teknologi, dan pelatihan, Pelibatan perempuan pesisir dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.

Di tengah tantangan zaman, Indonesia membutuhkan seluruh kekuatan pesisirnya. Nelayan perempuan bukan kelompok pinggiran, melainkan aktor utama ketahanan laut dan pangan bangsa.

Memperingati Hari Nelayan Perempuan Internasional 2026 adalah pengingat bahwa masa depan laut Indonesia juga ditentukan oleh sejauh mana kita menghargai dan melindungi perempuan yang hidup dan bekerja di pesisirnya, masa depan laut Indonesia tidak akan kuat jika perempuan nelayannya terus diabaikan.

Editor : RN 04.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *