AMBON,RN,Today.com — Serikat Anak Nelayan (SIKAT) Maluku menyoroti dugaan kuat adanya pencemaran laut di kawasan LTC Wayame, Kota Ambon, yang diduga berasal dari aktivitas kapal dan industri di sekitar pelabuhan.
Sekretaris Jenderal SIKAT Maluku, Rudi Rumagia, mengungkapkan bahwa dokumentasi udara yang mereka kumpulkan memperlihatkan aktivitas kapal beroperasi sangat dekat dengan area pembuangan limbah.
“Dari udara terlihat jelas bagaimana kapal-kapal beroperasi di dekat titik pembuangan. Ini bukan isu kecil — laut bisa jadi korban,” tegas Rudi, Jumat (10/10/2025).
Menurutnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Maluku harus bertanggung jawab penuh atas situasi tersebut. SIKAT menuding DLH lamban, tertutup, dan gagal menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dugaan pencemaran di wilayah itu.
“DLH tidak boleh berdiam diri sementara laut berubah jadi tempat pembuangan,” ujarnya.
Hasil investigasi lapangan SIKAT menemukan aliran limbah cair yang bermuara langsung ke laut. Warga pesisir sekitar LTC mengaku kerap melihat perubahan warna air dan bau menyengat dari arah pelabuhan.
“Air parit dari kawasan pelabuhan masuk ke teluk, kami alami langsung saat melaut,” tutur salah seorang nelayan setempat.
SIKAT menegaskan, dokumentasi visual tersebut menjadi bukti awal yang tak bisa diabaikan. Jika DLH tetap pasif, kata Rudi, maka pemerintah daerah patut diduga melakukan pembiaran sistematis terhadap pencemaran laut.
“Nelayan tidak butuh janji. Kami butuh laut bersih. Jika DLH tak sanggup bekerja, gubernur harus segera mencopot kepala dinasnya. Kalau tidak, kami akan gelar aksi besar-besaran,”(**)
Editor : Redaksi News (EB-)