MALTENG, RN today.com – Pelaksanaan program pemerintah pusat berupa Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 di SMP Negeri 23 Maluku Tengah yang berlokasi di Negeri Pasahari, Senin (09/03/2026), berlangsung dengan partisipasi penuh pihak sekolah, guru, komite, serta orang tua murid. Secara administratif kegiatan berjalan sesuai agenda, namun kondisi riil di lapangan menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah besar yang belum dibereskan.
Kepala sekolah dan dewan guru memimpin langsung pelaksanaan kegiatan. Orang tua murid turut hadir bersama ketua komite sebagai bentuk sinergi pengawasan. Ketua komite menyambut baik kebijakan pemerintah pusat tersebut karena dinilai membuka transparansi capaian belajar siswa. Menurutnya, melalui sistem TKA, kemampuan akademik siswa terlihat nyata dan orang tua dapat memantau langsung perkembangan anak tanpa lagi bergantung pada laporan sepihak.
Di sisi lain, suara siswa menghadirkan gambaran berbeda. Sejumlah siswa kelas IX yang baru menyelesaikan gladi dan pelaksanaan tes mengaku tetap bersemangat mengikuti asesmen berbasis digital itu. Mereka menilai sistem ujian modern mendorong keseriusan belajar dan mengurangi kebiasaan bermalas-malasan. Namun semangat itu berulang kali terganggu persoalan teknis yang seharusnya tidak terjadi dalam program nasional.
Ruang ujian dinilai sempit dan kurang memadai. Fasilitas belum sebanding dengan tuntutan sistem digital. Gangguan paling dominan datang dari jaringan internet yang tidak stabil sehingga peserta harus berulang kali menghentikan dan mengulang proses ujian. Situasi ini memicu kelelahan dan kejengkelan siswa.
“Kalau dari dulu sistemnya begini mungkin kami lebih rajin. Kami jadi semangat ikut tes, tapi ruangannya sempit dan jaringan sering putus, jadi tes terhambat,” ungkap salah satu siswi.
Keluhan serupa juga disampaikan orang tua yang ikut memantau jalannya ujian. Program yang dirancang modern justru tersendat pada persoalan mendasar: koneksi dan kelayakan fasilitas.
Kepala sekolah, Amir Alhamid, S.Pd, menegaskan sekolah tidak boleh dipandang sekadar tempat belajar formal. Ia mengibaratkan sekolah sebagai istana yang seharusnya memiliki lingkungan indah, suasana hangat, serta gedung yang layak agar peserta didik merasa aman dan nyaman.
“Siswa bisa saja pintar, tapi kalau lingkungan tidak mendukung dan fasilitas minim, tidak ada yang betah. Tempat asesmen harus layak, jaringan harus bagus, lingkungan harus aman. Kalau itu terpenuhi, program pasti berhasil,” tegasnya.
Ia juga menyoroti hambatan utama selama pelaksanaan TKA, yakni buruknya kualitas jaringan internet. Pihak sekolah secara terbuka meminta penyedia layanan telekomunikasi memberi perhatian serius agar program pemerintah pusat tidak terhambat di daerah.
“Kami minta petugas Telkomsel membantu mengontrol jaringan supaya pelaksanaan berjalan lancar,” ujarnya.
Selama dua hari pelaksanaan gladi TKA 2026, siswa kelas IX lebih banyak menunggu koneksi stabil dibanding fokus mengerjakan soal. Kondisi ini memperlihatkan ketimpangan antara ambisi digitalisasi pendidikan dan kesiapan infrastruktur.
Programnya baik. Tujuannya jelas. Transparansi meningkat. Namun tanpa fasilitas yang layak, ruang yang manusiawi, dan jaringan yang stabil, modernisasi pendidikan hanya terdengar megah di atas kertas sementara pelaksanaannya terseok-seok di ruang kelas. (RN-AS)
Editor : RN-BE