EKONOMI NASIONAL

Anak Papua Tuntut Kemerdekaan : Suara Yang Terus Menyalak Di Hari OPM

Share Berita

Sorong, RN Today.com – Papua kembali bergejolak. Menjelang peringatan Hari Organisasi Papua Merdeka (OPM), kelompok muda Papua bersama simpatisan gerakan pro-kemerdekaan kembali mengumandangkan tuntutan keras: “Papua harus dimerdekakan.” Seruan itu bukan sekadar letupan spontan. Ia adalah gema tahunan yang terus muncul, menjadi penanda bahwa persoalan Papua tidak pernah benar-benar diselesaikan, meski pemerintah pusat berkali-kali mengklaim “situasi terkendali”. namun kelompok pro kemerdekaan tetap tunjukkan eksistensi di sejumlah daerah, 01/12/2025.

massa terlihat berkeliling dari Jalan Baru hingga depan Bandara Deo, membawa simbol-simbol identitas Papua dan menyerukan penentuan nasib sendiri. terdengar dari warga yang menyaksikan iring-iringan itu. situasinya tak jauh berbeda. Kelompok muda Papua melakukan konsolidasi dan aksi-aksi terbuka, meskipun berada dalam tekanan aparat yang memperketat penjagaan di berbagai titik.

Setiap aktivitas yang dicurigai mengarah pada gerakan separatis langsung ditindak cepat.
Namun pola represif yang terus berulang justru memunculkan pertanyaan besar
Mengapa suara kemerdekaan tak pernah padam meski pengamanan diperketat setiap tahun?

Kelompok yang mendukung kemerdekaan menyampaikan beberapa alasan pokok:
Pemerintah pusat terlalu dominan, mengatur Papua dari jauh tanpa memahami realitas sosial.
Sumber daya alam dikeruk habis, tetapi rakyat Papua tetap berada di jurang kemiskinan.
Kekerasan bersenjata dan operasi militer selama puluhan tahun meninggalkan trauma turun-temurun.
Otonomi khusus dinilai gagal menjawab akar masalah ketidakadilan.

Jika suara “Papua merdeka” terus menggema setiap tahun, itu bukan semata propaganda kelompok bersenjata, tetapi Ada ketidakpercayaan mendalam dari rakyat yang belum dijawab negara.

Pemerintah harus berhenti melihat semua bentuk protes sebagai ancaman. Rakyat Papua tidak hanya menuntut pembangunan fisik, tetapi keadilan, pengakuan, dan penyelesaian pelanggaran HAM secara terbuka. Selama pendekatan keamanan terus menjadi resep utama, Papua hanya akan bergerak dalam lingkaran yang sama, aksi, penindakan, represi, protes, kemarahan, dan kembali kepada tuntutan kemerdekaan.(MB)

Editor : RN BE02

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *