Oleh : Hairul Rumata
Maluku, RN Today.com – HMI Autentik berangkat dari kesadaran sejarah bahwa Himpunan Mahasiswa Islam sejak kelahirannya bukanlah organisasi kekuasaan, melainkan gerakan kesadaran, sebuah ikhtiar intelektual dan moral untuk merawat hubungan dialektis antara keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Di titik inilah HMI menemukan ruh sejatinya bukan sebagai alat ideologisasi sempit, apalagi kendaraan pragmatis, tetapi sebagai ruang pembebasan akal dan pendewasaan iman.
Sejarah mencatat bahwa HMI lahir dari kegelisahan zaman, kegelisahan para pendiri terhadap masa depan umat dan bangsa yang baru saja merdeka namun rapuh secara struktur, rapuh secara kesadaran, dan rentan kehilangan arah. Karena itu, HMI sejak awal tidak dimaksudkan sebagai organisasi yang menutup diri dalam simbol-simbol keagamaan, melainkan sebagai laboratorium pemikiran, tempat iman diuji oleh realitas, dan akal dilatih untuk bertanggung jawab secara moral.
Sebagaimana ditegaskan Nurcholish Madjid, Islam bukan sekadar identitas formal atau label sosial, melainkan sumber nilai etik yang membebaskan manusia dari segala bentuk pengkultusan selain Tuhan. Tauhid, dalam pengertian ini, bukan hanya pernyataan teologis, tetapi sikap eksistensial, menolak tunduk pada kekuasaan yang menindas, ideologi yang membutakan, dan struktur sosial yang mematikan martabat manusia.
Dalam kerangka inilah, HMI Autentik menolak sakralisasi organisasi, simbol, maupun kekuasaan. Organisasi hanyalah wasilah, alat perjuangan yang bisa berubah dan diganti. Yang sakral bukan bendera, atribut, atau jabatan, melainkan nilai ketauhidan itu sendiri. Keadilan, kejujuran, dan keberpihakan pada kemanusiaan. Karena itu, kesetiaan kader HMI tidak berhenti pada struktur dan hierarki, melainkan berpuncak pada kebenaran dan tanggung jawab etis.
Autentik sebagai Keberanian Intelektual
Melalui sejarah panjangnya dari masa awal kemerdekaan, era demokrasi terpimpin, Orde Baru, hingga zaman reformasi dan pasca reformasi. HMI membuktikan bahwa daya hidup organisasi ini terletak pada kemampuan membaca zaman tanpa kehilangan iman. Nurcholish Madjid mengingatkan bahwa kemunduran umat sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya simbol keislaman, melainkan oleh kemiskinan intelektual dan kemacetan berpikir kritis.
Autentik, dalam pengertian ini, bukanlah nostalgia terhadap masa lalu, tetapi keberanian untuk kembali pada fitrah. Berpikir jernih, terbuka, dan bertanggung jawab. Autentik berarti berani mengoreksi diri, mengkritik internal organisasi, dan menolak kenyamanan semu yang lahir dari dogmatisme. HMI Autentik adalah HMI yang bersedia gelisah, sebab kegelisahan adalah tanda akal yang hidup.
Kepemimpinan sebagai Ibadah Sosial
Dalam pandangan Cak Nur, manusia diciptakan sebagai khalifah bukan untuk mendominasi, melainkan untuk mengelola kehidupan dengan akal, etika, dan kesadaran transenden. Kekuasaan, bila tercerabut dari nilai tauhid, akan berubah menjadi berhala baru. Karena itu, HMI Autentik membaca kepemimpinan sebagai ibadah sosial, pengabdian yang menuntut kejujuran intelektual, kerendahan hati, dan keberpihakan pada yang lemah.
Itulah, trilogi HMI bukanlah slogan kosong, melainkan tahapan eksistensial kader. Berpikir sebagai bentuk ibadah akal. Mengasah nalar kritis, melawan kebodohan struktural, dan menolak manipulasi pengetahuan. Bergerak sebagai tanggung jawab sosial. Hadir di tengah rakyat, membela yang tertindas, dan mengorganisir harapan. Maju sebagai ikhtiar peradaban. Menciptakan perubahan yang berkelanjutan dan bermartabat.
HMI autentik membaca realitas hari ini, Ekonomi, Politik, Sosial Budaya dalam bidang ekonomi, kita berpihak pada keadilan sosial. Ketimpangan, kemiskinan struktural, dan eksploitasi sumber daya bukan sekadar masalah teknis, melainkan persoalan etis. Tauhid menuntut keberanian untuk melawan sistem ekonomi yang menindas dan melanggengkan ketidakadilan. Kader HMI dipanggil untuk menjadi intelektual organik yang memahami teori, tetapi juga menyentuh realitas rakyat.
Dalam ranah politik, HMI Autentik menjaga jarak kritis dari pragmatisme kekuasaan. Politik dimaknai sebagai ikhtiar etis untuk mengelola kehidupan bersama, bukan sekadar perebutan jabatan. Cak Nur mengajarkan pentingnya desakralisasi politik, kekuasaan harus diawasi, dikritik, dan dipertanggungjawabkan, sebab tidak ada kekuasaan yang suci.
Dalam konteks sosial budaya, HMI Autentik merawat keberagaman sebagai sunnatullah. Tradisi, adat, dan budaya lokal tidak diposisikan sebagai ancaman, tetapi sebagai ruang dialog nilai. Islam hadir bukan untuk menghapus identitas, melainkan untuk memuliakan manusia dalam keberagamannya.
Dalam bidang pendidikan, HMI Autentik memperjuangkan pembebasan akal. Pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, tetapi pembentukan kesadaran kritis. Kampus harus menjadi ruang dialektika, bukan pabrik kepatuhan. Kader HMI dituntut menjadi pembelajar seumur hidup, rendah hati dalam ilmu, tetapi teguh dalam nilai.
Menjadi Rahmat di Tengah Zaman
Konteks keumatan hari ini yang masih berhadapan dengan warisan kolonial, ketimpangan struktural, serta godaan sekularisme dan liberalisme tanpa etika, menuntut pendekatan sebagaimana diajarkan Nurcholish Madjid. Desakralisasi terhadap yang profan, dan resakralisasi terhadap nilai kemanusiaan. Modernitas tidak ditolak, tetapi dipandu oleh tauhid agar tidak kehilangan arah moral.
HMI Cabang Ambon, melalui visi kritis, responsif, dan progresif, berusaha menjelmakan pemikiran ini dalam praksis nyata. Program intelektual, pengabdian umat, advokasi sosial, serta tata kelola organisasi diposisikan sebagai kerja keislaman yang rasional dan kontekstual. Sebab, sebagaimana ditegaskan Cak Nur, Islam harus hadir sebagai rahmat bagi realitas sosial, bukan sebagai beban ideologis.
Pada akhirnya, HMI Autentik adalah ikrar untuk menjaga kemurnian nilai di tengah perubahan zaman. Ia menolak beku dalam romantisme sejarah, sekaligus menolak larut dalam pragmatisme kekuasaan. Autentik berarti setia pada nilai, bukan pada kepentingan sesaat.
Dalam bahasa Nurcholish Madjid, inilah upaya menjadikan Islam sebagai agama yang memerdekakan, dan HMI sebagai ruang kaderisasi manusia merdeka.
Merdeka berpikir, merdeka bersikap, dan merdeka mengabdi.
Penulis adalah mantan ketua umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KIP) Periode 2022-2023
Editor : RN BR03