EKONOMI PENDIDIKAN

Aktivis Kilmury Teriak Soal Hak Kemanusiaan, PELNI Dinilai Gagal Layani Daerah 3T

Share Berita

Ambon, RN Today.com – Aksi demonstrasi di Kantor PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) kembali menguatkan jeritan masyarakat daerah tertinggal, terluar, dan termiskin (3T). Kali ini, suara lantang datang dari Kuba Boynaw, aktivis Kecamatan Kilmury, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), yang menuntut percepatan layanan pelayaran Sabuk 80 sebagai hak dasar masyarakat.

Dalam orasinya senin 26/01/2026 di depan Kantor PELNI di Ambon, Kuba menegaskan bahwa kehadiran tol laut bukan sekadar program seremonial, melainkan hak kemanusiaan, ekonomi, dan sosial yang wajib dirasakan masyarakat Kilmury.

Menurutnya, hingga kini Kecamatan Kilmury masih terisolasi akibat belum masuknya kapal Sabuk 80 ke dermaga setempat.

“Kami meminta dengan tegas kepada Kepala PELNI agar segera mempercepat proses pelayaran Sabuk 80 ke Kecamatan Kilmury. Wilayah kami sangat membutuhkan transportasi laut. Ini bukan permintaan pribadi, ini kebutuhan hidup masyarakat,” tegas Kuba.

Ia menilai, pemerintah pusat telah menyediakan program tol laut untuk daerah 3T, namun di tingkat daerah justru terkesan mandek dan diabaikan. Padahal, akses pelayaran menjadi urat nadi ekonomi masyarakat mulai dari distribusi bahan pokok, hasil laut, hingga mobilitas warga.

Kuba juga menyoroti fakta bahwa sejak beberapa bulan terakhir, Sabuk 80 tidak kunjung sandar di Dermaga Kilmury tanpa alasan yang jelas. Kondisi ini, menurutnya, memperparah keterisolasian wilayah yang sejak lama masuk kategori terluar, tertinggal, dan termiskin.

“Kalau Kepala PELNI Maluku tidak segera menyelesaikan persoalan ini, kami menilai beliau gagal dalam pelayanan publik. Ini menyangkut hak hidup masyarakat, bukan sekadar urusan administrasi,” ujarnya lantang.

Aktivis Kilmury menegaskan, PELNI memiliki tanggung jawab penuh menjalankan ketentuan pelayaran untuk daerah 3T sebagaimana amanat negara. Kegagalan menghadirkan Sabuk 80 dinilai sebagai bentuk pengabaian hak sosial dan ekonomi masyarakat.

Tak hanya berhenti pada pernyataan, Kuba juga menyampaikan ultimatum. Jika tidak ada langkah konkret dari PELNI, pihaknya bersama aktivis dan masyarakat Kecamatan Kilmury yang ada di kota ambon akan kembali menggelar aksi lanjutan.

“Jika tidak ada kepastian, kami akan kembali bersama seluruh masyarakat kilmury dan aktivis untuk menduduki Kantor PELNI Maluku. Ini perlawanan atas ketidakadilan,” ancamnya.

Ia menegaskan, perjuangan ini murni demi membuka keterisolasian wilayah dan memperjuangkan martabat masyarakat Kilmury agar tidak terus menjadi korban pembiaran kebijakan.

Editor : RN BE02

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *