EKONOMI

Randika Tewas Kelaparan di Negeri Kaya Raya: Potret Kegagalan Negara dan Kemandulan Ekonomi Anak Muda

Share Berita

RN Today.com – Jakarta, 31 Oktober 2025 Kabar duka datang dari sudut kota yang sering luput dari sorotan. Randika Alzatria Syahputera, seorang pemuda perantau, ditemukan tewas kelaparan di tempat ia berteduh. Ironi ini mencuat di tengah gegap gempita pidato para pejabat tentang “bonus demografi” dan “generasi emas 2045.” Tapi fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya anak muda di negeri kaya raya ini mati karena lapar.

Randika bukan sekadar korban kemiskinan, ia adalah simbol runtuhnya sistem ekonomi yang gagal memberi ruang hidup layak bagi generasi muda. Di negeri yang katanya sedang tumbuh pesat, ribuan pemuda justru hidup di bawah tekanan ekonomi, gaji minim, lapangan kerja sempit, dan biaya hidup yang melambung. Randika hanyalah satu dari sekian banyak wajah yang tersingkir dari narasi kemajuan.
Sebelum meninggal, Randika sempat viral karena meminta ditangkap polisi, sebuah tindakan ekstrem demi bisa makan dan beristirahat aman. “Mati kelaparan bukan di negeri perang, tapi di negara dengan tambang emas, minyak, dan sawit,” tulis akun media sosial @dwi, menyoroti betapa timpangnya distribusi kekayaan di negeri ini.

Padahal, Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menegaskan bahwa “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Namun, kemakmuran itu tak pernah menetes ke bawah. Sektor informal penuh anak muda yang bekerja tanpa jaminan, sementara peluang ekonomi hanya berputar di lingkaran kekuasaan dan modal besar.

Dari sisi ekonomi, angka pengangguran muda di Indonesia masih tinggi, dan banyak di antaranya adalah lulusan SMA hingga sarjana yang tak tertampung dunia kerja. Ketimpangan pendapatan membuat anak muda harus bertahan hidup dalam sistem yang tak memberi ruang bagi keberdayaan. Randika, di usia produktifnya, justru terperangkap dalam realitas sosial-ekonomi yang menolak memberinya kesempatan hidup layak.

Kematian Randika bukan sekadar kisah pilu perantau, tetapi tamparan keras terhadap pemerintah yang gagal menciptakan sistem ekonomi inklusif bagi generasi muda. Negeri ini boleh bangga dengan cadangan devisa dan proyek besar, tapi apa artinya semua itu jika anak mudanya mati kelaparan di trotoar kota?
Randika sudah tiada. Tapi kisahnya akan terus menggema sebagai suara protes terakhir dari seorang anak muda yang kalah oleh ketimpangan, dan oleh negara yang memilih diam.

Editor : RN (EB-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *