Maluku, RN Today.com — Puluhan siswa kelas 1 dan 3 SD Cokroaminoto bersama para guru dan orang tua murid menggelar kunjungan edukatif ke situs sejarah Benteng Amsterdam dan Masjid Tua Wa Pauwe, dua peninggalan bersejarah tertua di Maluku yang berada di Negeri Hila–Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. (22/11/2025)
Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran luar kelas untuk mengenalkan sejarah secara langsung kepada peserta didik sejak usia dini, sekaligus menumbuhkan kesadaran bersama mengenai pentingnya merawat dan melestarikan warisan budaya.
Dalam kesempatan tersebut, tokoh sejarah lokal Damir Lating memaparkan secara detail perjalanan sejarah kawasan Hila–Kaitetu yang sejak abad ke-17 menjadi pusat peradaban bangsa Eropa di Maluku, termasuk keberadaan benteng kolonial Amsterdam, Gereja Tua Immanuel, dan Masjid Tua Wa Pauwe.
“Sejarah bukan sekadar cerita. Semua orang dapat membuat cerita, tetapi sejarah membutuhkan bukti dan arsip. Karena itu kami berharap semua pengunjung dapat mengambil dampak positif dan ikut melestarikan cagar budaya ini,” ujar Lating
Ia juga menegaskan bahwa pelestarian situs budaya adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya seremoni sesaat.
“Melestarikan tidak hanya dengan merawat fisiknya, tetapi juga dengan promosi agar sejarah ini dikenal dunia. Benteng Amsterdam bukan milik pemerintah semata, tetapi milik seluruh rakyat Maluku,” tambahnya.
Di tempat yang sama, Kepala SD Cokroaminoto, Asha Tatisina, menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari program pembelajaran ekstrakurikuler yang berorientasi pada pendidikan karakter dan sejarah.
“Selain Pramuka, UKS, dan Silat, kami juga membawa siswa mempelajari benda dan tempat bersejarah. Anak-anak harus mengetahui mengapa ada gereja tua dan masjid tua di Hila, sebagai contoh toleransi dan keberagaman sejak dulu,” jelas Tatisina.
“Belajar bukan hanya di dalam kelas. Di tempat seperti inilah mereka memahami sejarah yang sesungguhnya,” tambahnya.
Menurutnya, meski siswa masih berusia dini, mereka perlu diperkenalkan pada nilai budaya lokal agar kelak mampu menjaga dan menghormati sejarah bangsanya.
Pelajaran Penting: Sejarah Bukan Kenangan, Tapi Identitas
Kunjungan ini menjadi refleksi bahwa banyak generasi muda Maluku tidak lagi mengenal jejak sejarah lokal. Tanpa upaya edukasi seperti ini, peninggalan penting bangsa terancam hanya menjadi objek foto, bukan sumber pengetahuan dan kebanggaan.
Warisan bersejarah seperti Benteng Amsterdam dan Masjid Wa Pauwe adalah bukti nyata perjalanan panjang hubungan nusantara–Eropa, peradaban Islam dan Kristen, serta simbol toleransi masyarakat Hila–Kaitetu.
Namun sayangnya, perhatian pemerintah dan publik terhadap pelestarian cagar budaya seringkali hanya muncul menjelang acara seremonial, bukan kerja nyata berkelanjutan.
Editor : RN BE02