Maluku, RN today.com – SIAPA YANG LEBIH PAHAM PELABUHAN? ANDA ATAU LEMBAGA STUDI KELAYAKAN INDEPENDEN? BERHENTI MEMPOLITISASI DATA, DUKUNGAN KEPUTUSAN CERDAS GUBERNUR MALUKU!
Saya telah menghabiskan lebih dari dua dekade hidup saya di dermaga, di terminal peti kemas, di ruang-ruang rapat bersama shipping line global, dan di lokasi-lokasi pembangunan pelabuhan besar di Indonesia. Saya yang memimpin pengembangan terminal peti kemas terbesar di Indonesia. Saya yang membawa standar operasional pelabuhan Indonesia ke level internasional. Saya tahu persis apa yang membuat sebuah pelabuhan itu hidup, dan apa yang membuatnya mati sia-sia.
Dan dengan segala otoritas yang saya miliki sebagai praktisi pelabuhan Indonesia yang telah membuktikan diri, saya ingin menyampaikan satu hal kepada masyarakat Maluku dengan kata-kata yang tidak perlu ditafsir dua kali BERHENTILAH MEMBELA NARASI BODOH YANG INGIN MEMAKSAKAN PELABUHAN INTEGRATED DI PULAU SERAM!
Saya tidak main-main. Saya tidak sedang berteori. Saya bicara dengan data yang saya kuasai, dengan pengalaman yang saya jalani, dan dengan fakta-fakta di lapangan yang tidak bisa dibantah.
Karena jika kalian terus membiarkan narasi ini berkembang, kalian sedang menggali kubur untuk ekonomi Maluku sendiri. Dan ketika kubur itu sudah jadi, yang menangis bukan para pengkrikit kebijakan gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, mereka akan cari proyek lain untuk digerogoti. Yang menangis adalah petani dan nelayan di seluruh Maluku, dan anak cucu kalian yang harus membayar utang proyek mangkrak selama tiga puluh tahun.
Dalam setiap proyek infrastruktur pelabuhan, ada satu tahapan yang tidak pernah, dilewati tanpa kehati-hatian tingkat dewa yaitu STUDI KELAYAKAN.
Studi kelayakan bukan dokumen formalitas yang disusun untuk memenuhi persyaratan administratif. Studi kelayakan adalah kitab suci dalam pembangunan infrastruktur. Di dalamnya terkandung perhitungan arus peti kemas 20 – 30 tahun ke depan, proyeksi volume kargo dengan skenario optimis dan pesimis, analisis pasar yang menjadi target ekspor, kelayakan finansial dengan berbagai skenario suku bunga, hingga analisis risiko paling buruk, termasuk skenario di mana proyek itu gagal total.
Gubernur Hendrik Lewerissa telah melakukan sesuatu yang jarang dilakukan pemimpin daerah di negeri ini, dimana beliau memerintahkan studi kelayakan ulang untuk proyek Maluku Integrated Port (MIP) di Waisarisa, Pulau Seram. Dan hasilnya? Dari lembaga yang benar-benar berpengalaman di bidang port dan shipping, hasilnya terang-benderang TIDAK LAYAK.
Sekarang saya mendengar ada pihak-pihak yang menyerang Gubernur katanya memindahkan proyek tersebut dari pulau Seram ke pulau Ambon. Mereka membangun opini bahwa ini keputusan politis, bukan teknis.
Saya mau tanya dengan nada yang tidak perlu basa-basi SIAPA ANDA YANG LEBIH PAHAM DARI LEMBAGA STUDI KELAYAKAN INDEPENDEN YANG BERBICARA ATAS NAMA ILMU DAN DATA?
Kalian pikir mereka tidak memperhitungkan potensi bumi dan hasil laut Seram? Kalian pikir mereka buta dengan potensi sumber daya alam di sana? Mereka sudah menghitung semua itu. Mereka sudah memproyeksikan skenario terbaik sekalipun. Dan kesimpulan mereka tetap TIDAK LAYAK!
Di negara maju, ketika studi kelayakan mengatakan tidak layak, proyek dihentikan. Tidak ada perdebatan. Tidak ada serangan politik. Tidak ada kelompok masyarakat yang dibodohi dengan narasi sentimental. Itu sudah menjadi etika profesional yang tidak bisa ditawar.
Maluku Integrated Port HARUS dibangun.
Tapi di tempat yang benar: PULAU AMBON.
Salam hormat,
Kapten Johny Rondonuwu
Jakarta, 24 Maret 2026

