OPINI

28 Tahun Reformasi: Ketika Indonesia Seolah Berjalan Mundur

Share Berita

INDONESIA, RN Today.com Yogyakarta kembali mengingatkan Indonesia tentang satu hal yang mulai jarang dibicarakan secara jujur: ke mana sebenarnya arah Reformasi dibawa setelah 28 tahun berlalu?

Di sebuah forum intelektual di Universitas Islam Indonesia, sejumlah tokoh nasional duduk bersama mahasiswa dan membedah kondisi bangsa tanpa basa-basi. Mereka bukan orang sembarangan. Ada Mahfud MD, Rocky Gerung, Oki Madasari, hingga Suparman Marzuki. Dan yang paling menggetarkan dari forum itu bukan sekadar kritik mereka, melainkan kenyataan bahwa hampir semua kesimpulan mengarah pada satu titik yang sama: Reformasi sedang kehilangan ruhnya.

Selama ini Reformasi selalu diperingati dengan seremoni dan nostalgia. Namun forum di Yogyakarta itu justru membuka luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh. Enam agenda besar Reformasi 1998 diperiksa ulang satu per satu, dan hasilnya terasa menyakitkan. Pemberantasan korupsi belum tuntas, supremasi hukum dipertanyakan, militerisme disebut mulai merayap kembali, sementara oligarki politik semakin kuat mengendalikan negara.

Mahfud MD menyebut kondisi ini sebagai “autocratic legalism”, sebuah situasi ketika hukum tidak lagi menjadi alat keadilan, melainkan instrumen kekuasaan. Aturan dibuat bukan untuk melindungi rakyat, tetapi untuk membenarkan kepentingan elite. Kalimat itu terasa keras, namun publik sulit menolak kenyataan bahwa hari ini banyak kebijakan lahir lebih cepat untuk mengakomodasi kekuasaan daripada menjawab penderitaan rakyat.

Kritik yang disampaikan bukan sekadar kemarahan emosional. Ini adalah kegelisahan intelektual terhadap arah demokrasi Indonesia. Ketika undang-undang bisa diubah demi kepentingan politik tertentu, ketika kritik publik dianggap ancaman, dan ketika lembaga penegak hukum kehilangan kepercayaan masyarakat, maka yang terancam bukan hanya pemerintahan hari ini, tetapi masa depan negara itu sendiri.

Yang paling banyak disorot dalam forum tersebut adalah gejala kembalinya militerisme dalam ruang sipil. Penempatan figur militer aktif di jabatan strategis pemerintahan, budaya seremonial bernuansa militer, hingga keterlibatan aparat dalam berbagai sektor sipil dinilai sebagai sinyal yang tidak boleh dianggap biasa. Reformasi 1998 lahir salah satunya untuk mengakhiri dominasi militer dalam kehidupan sipil. Karena itu, ketika gejala tersebut muncul kembali, publik wajar bertanya: apakah bangsa ini sedang berjalan mundur?

Namun di tengah kritik keras itu, sesungguhnya ada pesan yang jauh lebih penting. Reformasi belum sepenuhnya gagal, tetapi sedang berada di persimpangan berbahaya. Indonesia memang berhasil keluar dari era otoritarianisme terbuka, tetapi belum sepenuhnya berhasil membangun demokrasi yang matang. Kebebasan pers ada, pemilu berjalan, kritik masih terdengar. Namun di saat bersamaan, rasa ketidakpercayaan terhadap hukum dan elite politik terus tumbuh.

Rocky Gerung menyebut Indonesia seperti berdiri di antara dua rumah: sudah keluar dari rumah Orde Baru, tetapi belum benar-benar masuk ke rumah demokrasi. Analogi itu terasa relevan melihat situasi hari ini. Demokrasi prosedural berjalan, tetapi substansi keadilan masih terasa jauh dari rakyat kecil.

Yang paling mengkhawatirkan sebenarnya bukan kritik para intelektual itu, melainkan apabila masyarakat mulai kehilangan harapan. Ketika publik merasa hukum tidak lagi berpihak, ketika korupsi dianggap biasa, dan ketika kekuasaan terlihat kebal terhadap kritik, maka perlahan lahir sikap apatis. Dan sejarah menunjukkan, bangsa yang rakyatnya kehilangan kepercayaan pada negara sedang berjalan menuju krisis yang lebih besar.

Indonesia tentu belum runtuh. Negara ini masih memiliki banyak orang baik, banyak anak muda kritis, banyak akademisi, jurnalis, aktivis, dan masyarakat sipil yang terus menjaga nalar demokrasi tetap hidup. Tetapi bangsa ini juga tidak boleh menutup mata terhadap tanda-tanda kemunduran yang mulai terlihat terang.

Dua puluh delapan tahun Reformasi seharusnya menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar perayaan simbolik. Sebab demokrasi tidak pernah benar-benar aman. Ia bisa melemah perlahan, dibungkam sedikit demi sedikit, hingga akhirnya masyarakat sadar semuanya sudah terlambat.

Dan mungkin, itulah pesan paling penting dari malam di Yogyakarta itu: Indonesia masih punya waktu untuk memperbaiki arah. Tetapi waktu itu tidak akan menunggu terlalu lama.

Oleh : Direktur Redaksi News Today

Editor : RN-BE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *