Ambon, RN today.com – Komitmen terhadap pengelolaan lingkungan berkelanjutan kembali ditegaskan oleh Universitas Pattimura melalui kerja sama strategis bersama Happy Green Island. Penandatanganan kerja sama ini berlangsung di Ruang Rapat Rektor, Selasa (7/7/2026), dengan fokus utama pada penguatan edukasi masyarakat dan pengelolaan lingkungan berbasis kolaborasi multipihak.
Rektor Unpatti, Prof Fredy Leiwakabessy, menegaskan bahwa tantangan lingkungan saat ini tidak bisa diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan sinergi yang berkelanjutan antara dunia akademik, komunitas, pemerintah, dan organisasi non-pemerintah.
Menurutnya, kerja sama ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah konkret untuk membangun sistem pengelolaan lingkungan yang terstruktur dan berdampak jangka panjang.
“Selama ini Unpatti telah menjalankan berbagai program lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah di kampus hingga pelibatan mahasiswa dalam aksi-aksi ekologis. Namun, kolaborasi yang lebih luas akan memperkuat dampaknya,” tegas Rektor.
Kerja sama tersebut mencakup berbagai bidang strategis, di antaranya pendidikan dan pengembangan keahlian, pertukaran pengetahuan, inovasi teknologi, penelitian, serta pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.
Sementara itu, Direktur sekaligus Founder Happy Green Island, Corneles K. Lafeber, menyoroti kompleksitas persoalan lingkungan, khususnya sampah, yang menurutnya tidak bisa ditangani oleh satu disiplin ilmu saja.
“Sampah bukan hanya urusan satu fakultas atau satu lembaga. Ini persoalan lintas sektor yang membutuhkan pendekatan ekologi, sosial, ekonomi, hingga pendidikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Happy Green Island selama ini berfokus membantu masyarakat di pulau-pulau kecil untuk membangun sistem pengelolaan sampah mandiri. Pendekatan yang digunakan meliputi pembentukan bank sampah, pengaturan rute pengumpulan, hingga edukasi kebersihan yang tetap menghormati kearifan lokal.
Melalui kemitraan ini, proyek pengelolaan lingkungan di Ambon diharapkan semakin berkembang dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus menjadi model kolaborasi yang bisa direplikasi di wilayah kepulauan lainnya.
Kerja sama ini sekaligus menjadi sinyal bahwa upaya penyelamatan lingkungan tidak bisa lagi ditunda—dan perguruan tinggi, seperti Unpatti, mulai mengambil peran lebih strategis sebagai motor penggerak perubahan. (RN-BE)



