BUDAYA KEAMANAN PEMERINTAHAN

Prosesi Adat Urlima Akhiri Konflik Kalar-Kalar dan Salarem, Perdamaian Resmi Dikukuhkan

Share Berita

ARU, RN Today.com – Konflik yang sempat terjadi antara masyarakat Desa Kalar-Kalar dan Desa Salarem, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru, resmi berakhir melalui prosesi adat Urlima yang digelar di Lapangan Apel Kantor Bupati Kepulauan Aru, Sabtu (4/7/2026). Prosesi berlangsung khidmat dan menjadi momentum penting dalam memulihkan hubungan persaudaraan kedua desa.

Perdamaian dikukuhkan melalui pembacaan deklarasi damai, penandatanganan kesepakatan bersama, serta penyerahan simbol-simbol adat yang mencerminkan berakhirnya konflik. Acara tersebut dihadiri Bupati Kepulauan Aru Timotius Kaidel, Wakil Bupati Muhammad Djumpa, Kapolres Kepulauan Aru AKBP Alberth Perwira Sihite, Forkopimda, tokoh adat, tokoh agama, kepala desa, dan ratusan warga.

Rangkaian adat diawali dengan penyerahan gong perdamaian oleh tokoh perempuan kedua desa sebagai simbol penyelesaian sengketa secara adat. Prosesi dilanjutkan dengan penyerahan panah oleh tokoh pemuda sebagai tanda berakhirnya permusuhan yang telah berlangsung selama beberapa bulan.

Para tua adat Urlima kemudian memimpin sumpah adat bersama tuan tanah kedua desa. Setelah itu, panah diserahkan kepada Kapolres Kepulauan Aru sebagai simbol bahwa penggunaan senjata dalam konflik telah diakhiri dan masyarakat kembali memilih jalan damai.

Deklarasi Kesepakatan Damai selanjutnya dibacakan oleh Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Kepulauan Aru dan diikuti seluruh masyarakat. Dokumen perdamaian ditandatangani kepala desa, perwakilan tua adat, serta disaksikan pemerintah daerah, kepolisian, dan unsur TNI.

Bupati Timotius Kaidel menyampaikan rasa syukur atas tercapainya perdamaian setelah proses mediasi selama kurang lebih tiga bulan. Ia berharap masyarakat menjadikan adat sebagai sarana utama menyelesaikan persoalan tanpa harus mengorbankan persaudaraan antarwarga.

Prosesi ditutup dengan doa lintas agama yang dipimpin pemuka Islam, Katolik, dan Protestan, kemudian dilanjutkan makan bersama dengan iringan lagu-lagu khas Aru. Suasana penuh keakraban menjadi penanda dimulainya kembali kehidupan masyarakat yang damai, aman, dan harmonis.

Editor : RN BE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *