Maluku RN Today.com – Tiga hari sudah berlalu sejak jasad Gofar Wawangi, warga Desa Waesili, Kecamatan Waesama, Kabupaten Buru Selatan (Bursel) Maluku, ditemukan tewas dengan luka mengenaskan. Namun, hingga kini pelaku pembunuhan masih misterius, dan penyelidikan aparat terkesan berjalan di tempat.
Kematian Gofar Wawangi bukan hanya menyisakan duka bagi keluarga, tetapi juga memantik kemarahan warga yang menilai aparat penegak hukum belum menunjukkan langkah konkret. Warga menuntut Polsek Waesama dan Polres Buru Selatan untuk tidak berdiam diri di balik penyelidikan formalitas, pihak keluarga menginginkan hasil, bukan janji.
Bendahara Umum BKPRMI Maluku, Arsando Rupilu, menyoroti keras lambannya pengungkapan kasus ini. Menurutnya, setiap hari keterlambatan hanya menambah spekulasi liar dan mencoreng citra kepolisian.
“Keterlambatan seperti ini bisa melemahkan kepercayaan publik. Jangan biarkan opini masyarakat berkembang liar. Polisi harus tunjukkan keseriusan dan hasil nyata,” ujarnya dalam keterangan yang diterima awak media, senin (10/11)
Arsando pun mengingatkan, dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, jelas disebutkan bahwa tugas pokok Polri adalah menegakkan hukum, memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.
“Jangan biarkan hukum kehilangan wibawanya. Jika masyarakat tidak lagi percaya, maka seluruh sistem keamanan ikut runtuh,” tambahnya.
Yang lebih mengejutkan, Arsando mengungkap fakta bahwa kejadian tragis ini bukan yang pertama di Desa Waesili, hampir 11 tahun silam, ada seorang warga bernama Mama Naima juga ditemukan tewas secara misterius dan kasusnya tidak pernah terungkap hingga kini seolah hilang ditelan bumi.
“Dulu Mama Naima jadi korban, sekarang Gofar. Apakah kita harus menunggu korban berikutnya baru kebenaran terungkap?” tegasnya.
Masyarakat Waesili kini menaruh kecurigaan kuat bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Beberapa warga menilai ada indikasi permainan di balik lambatnya penanganan kasus ini, meski belum ada bukti yang bisa diungkap ke publik. Namun tekanan sosial semakin menguat — masyarakat menuntut transparansi penuh dari kepolisian.
lebih lanjut Arsando pun menyerukan, agar warga tidak tinggal diam.
“Jika ada yang tahu sesuatu, sekecil apa pun informasinya, laporkan ke aparat. Kita harus bantu agar pelaku cepat ditangkap. Keadilan tidak datang jika kita membiarkan ketakutan menguasai,” ujarnya.
Kini, mata publik Maluku tertuju ke Polsek Waesama dan Polres Buru Selatan, Masyarakat menunggu apakah polisi akan benar-benar mengungkap kebenaran di balik kematian Gofar Wawangi, atau kasus ini akan menjadi luka kedua yang kembali dikubur dalam diam seperti tragedi Mama Naima sebelas tahun silam.
Hingga berita ini ditayangkan, Pihak media belum terkonfirmasi dengan pihak Polres Buru Selatan
Editor RN BE02