OPINI

OPINI : Timbang Rasa dan Empati di Tengah Bencana

Share Berita

Oleh : H. M.S. Pelu, M.Pd./GB

Indonesia, RN Today.com – Saudara-saudaraku, mari kita menarik napas dan merenungkan satu hal, saat kita masih bisa bersyukur atas keselamatan diri sendiri di tempat yang aman, itulah saat terbaik untuk menanggalkan penghakiman. Situasi bencana alam adalah medan darurat yang menguji batas kemanusiaan, di mana naluri bertahan hidup menjadi komandan utama. Kita tidak pernah tahu rasa lapar yang mencekik, keputusasaan karena kehilangan segalanya, dan ketakutan melihat anak-anak merengek tanpa ada bantuan yang pasti tiba.

Bukan Menjustifikasi, Tapi Memahami:

Tindakan yang kita lihat, yang mungkin terkesan ”menjarah” seringkali adalah aksi spontan dalam keadaan darurat absolut di mana garis antara bertahan hidup dan norma sosial menjadi sangat tipis.

Jika Itu Mereka, Belum Tentu Kita:

Jika pun ada yang bersembunyi dari sorot kamera, itu adalah refleksi rasa malu dan penyesalan, bukan sepenuhnya niat jahat. Ini menunjukkan bahwa di lubuk hati, mereka tahu tindakan itu bukanlah pilihan ideal, namun kebutuhan mendesak telah mendahului akal sehat.

Fokus pada Solusi:

Alih-alih menghabiskan energi untuk menghakimi, mari kita salurkan ke dalam satu pertanyaan: “Apa yang sudah saya lakukan agar bantuan segera sampai kepada mereka?” Mari kita bersikap lebih lunak, lebih manusiawi, dan lebih bertimbang rasa. Keadaan darurat adalah guru yang kejam; ia mengajarkan kita bahwa di saat krisis, solidaritas dan empati jauh lebih penting daripada moralitas permukaan.

Doa terbaik kita adalah tindakan nyata, dan dukungan moral terhebat kita adalah memahami bahwa mereka sedang melalui hari terberat dalam hidup mereka.

#TimbangRasaAdalahJembatanMenujuKemanusiaanSejati.

Penulis adalah : Pemerhati Sosial dan Budaya

 

Editor : RN BE02

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *