SBB, RN Today.com – Isu yang menyebut Bupati Seram Bagian Barat (SBB), Ir. Asri Arman, MT, tengah menyiapkan istrinya untuk maju dalam kontestasi Pilkada mendatang dinilai sebagai framing politik yang tidak berdasar dan tidak elegan.
Tokoh muda SBB, La Maarup Tomia, menegaskan bahwa narasi tersebut terlalu dini dan cenderung mengganggu stabilitas pemerintahan yang saat ini masih fokus pada pembangunan daerah.
“Walanda masih jauh. Sesuai putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, kontestasi Pilkada Bupati SBB baru akan dilaksanakan pada 2031. Jadi klaim itu sangat prematur,” tegasnya ke media, 22/04/2026.
Ia menilai, isu tersebut bukan sekadar opini liar, melainkan bagian dari upaya sistematis untuk membangun persepsi negatif terhadap kepemimpinan Bupati Asri Arman bersama Wakil Bupati Selfinus Kainama, yang baru berjalan sekitar satu tahun lebih.
“Framing ini saya lihat sebagai pesanan politik dari pihak-pihak yang punya kepentingan maju di periode berikutnya. Ini cara lama: menciptakan citra buruk lebih awal,” ujarnya.
Menurut Tomia, rekam jejak Asri Arman selama kurang lebih 15 tahun di SBB telah membentuk citra positif di tengah masyarakat. Kepemimpinannya saat ini disebut sebagai kelanjutan dari pengabdian panjang tersebut.
“Citra baik itu tidak dibangun dalam semalam. Ada kontribusi nyata yang sudah dirasakan masyarakat,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti sorotan terhadap Ketua TP-PKK SBB, Ibu Yeni Rosbayani, yang belakangan kerap dikaitkan dengan isu politik tersebut. Menurutnya, intensitas kehadiran Yeni Rosbayani di ruang publik merupakan bagian dari tugas dan pengabdian sebagai Ketua TP-PKK, bukan agenda politik tersembunyi.
“Kehadiran beliau dalam berbagai kegiatan, baik program TP-PKK maupun undangan pemerintah, ormas, hingga masyarakat desa dan dusun, adalah bentuk ketulusan dalam melayani masyarakat,” jelas Tomia.
Ia juga mengkritik sejumlah pemberitaan yang dinilai tidak terverifikasi dan cenderung menyudutkan tanpa melihat capaian yang telah dilakukan oleh TP-PKK SBB.
“Banyak yang hanya mencari celah kesalahan tanpa melihat prestasi. Ini tidak adil,” katanya.
Tomia menegaskan bahwa mengaitkan aktivitas Ketua TP-PKK dengan skenario pencalonan kepala daerah merupakan kesimpulan yang keliru dan tidak berdasar.
“Menjadikan intensitas go publik sebagai indikasi persiapan pencalonan adalah asumsi yang menyesatkan. Ini framing yang tidak elegan dan keliru besar,” tutupnya.
Editor : RN – BE