AMBON, RN Today.com – Universitas Pattimura (Unpatti) telah menghasilkan sekitar 760 dokter sejak Fakultas Kedokteran dibuka pada 2008. Namun, capaian tersebut masih menyisakan pekerjaan besar, yakni memastikan ketersediaan dan pemerataan tenaga medis hingga ke wilayah terpencil dan pulau-pulau di Maluku.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Rektor Universitas Pattimura, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd., dalam kegiatan Pengambilan Sumpah dan Pelantikan Dokter Baru Angkatan ke-40 Fakultas Kedokteran Unpatti, yang berlangsung di Gedung Plaza Presisi Polda Maluku, Rabu (4/11/2026).
Dalam kesempatan itu, Fredy menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan dokter tidak cukup diukur dari jumlah lulusan yang dihasilkan. Lebih dari itu, keberadaan para dokter harus mampu memberikan kontribusi nyata dalam menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.
Menurutnya, pendidikan dokter yang telah berjalan sejak 2008 memberikan kesempatan bagi putra-putri Maluku untuk menempuh pendidikan kedokteran di daerah sendiri tanpa harus meninggalkan wilayahnya.
Hingga kini, Unpatti telah menghasilkan sekitar 760 dokter. Sebanyak 38 dokter baru kembali diambil sumpah dan dilantik dalam kegiatan tersebut.
Rektor juga menekankan pentingnya keberlanjutan setelah para mahasiswa menyelesaikan pendidikan. Para lulusan harus mendapatkan ruang dan kesempatan untuk diberdayakan sesuai kebutuhan tenaga medis di daerah.
TANTANGAN KESEHATAN WILAYAH KEPULAUAN
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Unpatti, dr. Farah Christina Noya, M.HPEd., Ph.D., mengingatkan bahwa pengambilan sumpah dokter bukan sekadar penanda keberhasilan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab profesi, kemanusiaan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia mengakui, Maluku sebagai provinsi berciri kepulauan masih menghadapi persoalan pemerataan akses dan kualitas pelayanan kesehatan.
Masyarakat yang bermukim di pulau-pulau terpencil maupun wilayah perbatasan masih harus menempuh perjalanan panjang untuk memperoleh pelayanan medis.
Karena itu, Fakultas Kedokteran Unpatti sebagai satu-satunya fakultas kedokteran di Provinsi Maluku memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjawab berbagai persoalan kesehatan masyarakat kepulauan.
Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, menurutnya, harus diarahkan pada kebutuhan serta prioritas kesehatan masyarakat Maluku.
PEMPROV DIDORONG PERKUAT SISTEM KESEHATAN
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Ir. Sadali Ie, M.Si., IPU, yang mewakili Pemerintah Provinsi Maluku, menyampaikan pentingnya penguatan sistem pelayanan kesehatan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemberdayaan tenaga medis, peningkatan fasilitas kesehatan, serta kolaborasi antarlembaga.
Para dokter baru juga diingatkan agar menjalankan profesi dengan mengutamakan nilai kemanusiaan dan tidak membedakan pasien berdasarkan latar belakang ekonomi, sosial, suku, agama maupun tempat tinggal.
Menurut pemerintah daerah, setiap masyarakat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan bermartabat.
Dengan bertambahnya 38 dokter baru tersebut, harapan terhadap peningkatan pelayanan kesehatan di Maluku kembali mengemuka.
Namun, tantangan sesungguhnya bukan hanya mencetak lebih banyak dokter, melainkan memastikan tenaga medis tersebut dapat hadir dan memberikan pelayanan secara merata, terutama bagi masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses kesehatan di wilayah kepulauan.
Editor : RN
