ORGANISASI

‎Konferensi Dijalankan Sepihak, Cederai Nilai Moral Demokrasi HMI Cabang Ambon

Share Berita

MALUKU, RN Today.com  –  Polemik pelaksanaan Konferensi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ambon semakin menguat. Sejumlah kader menilai proses konferensi yang sedang berjalan tidak mencerminkan nilai-nilai moral demokrasi organisasi. Salah satu suara kritis datang dari Putri Hastari, demisioner Ketua Bidang Agraria dan Kemaritiman HMI Cabang Ambon sekaligus salah satu dari sepuluh kandidat Ketua Umum HMI Cabang Ambon.

‎Putri menegaskan bahwa pelaksanaan konferensi yang dijalankan secara sepihak telah mencederai nilai moral dan prinsip demokrasi yang selama ini menjadi fondasi perjuangan HMI. Ia menyebut, praktik tersebut tidak hanya merusak mekanisme organisasi, tetapi juga berpotensi memperdalam konflik internal yang saat ini tengah terjadi.

‎”Sidang yang dijalankan tanpa prinsip demokrasi adalah bentuk pengingkaran terhadap nilai dasar HMI. Dampaknya sangat buruk secara internal dan berpotensi memecah konsolidasi kader” ujar Putri kepada awak media kamis, (05/06/2026)

‎Menurutnya, HMI sebagai organisasi mahasiswa Islam yang memiliki sejarah panjang dalam perjuangan sosial, intelektual, dan kebangsaan, seharusnya menjadi teladan dalam praktik demokrasi yang sehat. Namun, realitas yang terjadi di HMI Cabang Ambon hari ini justru menunjukkan adanya degradasi nilai, ditandai dengan konflik kepentingan, pengabaian musyawarah, serta minimnya keterlibatan seluruh unsur kader dalam pengambilan keputusan strategis.

‎Putri juga menyoroti proses pembuktian sidang yang dinilainya tidak demokratis. Ia menilai mekanisme tersebut tidak memberikan ruang yang adil bagi seluruh kandidat Ketua Umum untuk terlibat secara setara dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi ke depan.

“‎Konferensi cabang seharusnya menjadi ruang adu gagasan, bukan ruang legitimasi sepihak. Ketika hanya sebagian pihak yang menentukan jalannya sidang, maka yang terjadi adalah pembodohan terhadap nilai demokrasi”, tegasnya.

‎Sebagai bentuk sikap politik internal, Putri bersama sejumlah kader menyatakan penolakan terhadap dua draf kepemimpinan yang muncul dalam dinamika konferensi HMI Cabang Ambon. Ia menekankan bahwa keberpihakan dalam organisasi merupakan hal yang wajar, namun harus dijalankan dengan tetap menjunjung tinggi etika dan nilai moral demokrasi.

‎Keberpihakan tidak boleh dijadikan alasan untuk merusak tatanan organisasi. HMI tidak boleh digiring untuk mempertanggungjawabkan konflik kepentingan yang dijalankan secara sepihak, katanya.

‎Lebih lanjut, Putri menegaskan bahwa konferensi idealnya melibatkan seluruh kandidat Ketua Umum HMI Cabang Ambon. Menutup ruang partisipasi kandidat, menurutnya, justru memperbesar potensi konflik dan memperlemah legitimasi kepemimpinan yang dihasilkan.

‎Ia bahkan menyatakan sikap tegas apabila konferensi tetap dipaksakan tanpa mempertimbangkan nilai moral demokrasi. Putri mengungkapkan bahwa langkah alternatif akan diambil sebagai bentuk perlawanan terhadap praktik yang dianggap mencederai marwah organisasi.

‎”Jika konferensi ini tetap dijalankan tanpa menjunjung nilai moral demokrasi, maka hari ini bukan hanya dua draf, dua sampai sepuluh draf kepemimpinan pun akan kami laksanakan. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap praktik yang tidak adil” tegasnya.

‎Dalam pandangannya, konflik yang terjadi saat ini merupakan akumulasi dari krisis etik dan turbulensi internal yang telah lama menggerogoti tubuh HMI Cabang Ambon. Ia menyebut bahwa perebutan posisi Ketua Umum kerap lebih menonjolkan konflik kepentingan dibandingkan pertarungan ideologi, gagasan, dan visi perjuangan.

‎Krisis etik ini melahirkan turbulensi internal yang tidak berkesudahan. Akibatnya, nalar kritis kader melemah dan HMI semakin menjauh dari nilai perjuangannya sebagai organisasi kader umat dan bangsa, ujar Putri.

‎Putri berharap seluruh pihak dapat kembali pada nilai-nilai dasar HMI, menjadikan konferensi sebagai ruang musyawarah yang demokratis, terbuka, dan berkeadilan. Menurutnya, hanya dengan cara tersebut HMI Cabang Ambon dapat keluar dari konflik internal dan kembali fokus pada peran strategisnya sebagai organisasi mahasiswa Islam yang progresif dan berintegritas.

‎Editor : RN BR03

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *