Ambon, RN Today.com – Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran sains di Maluku tak bisa hanya berhenti pada pengadaan alat. Menjawab persoalan klasik itu, Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Pattimura (Unpatti) menggelar pelatihan perawatan mikroskop yang menitikberatkan pada keterampilan teknis, bukan sekadar teori.
Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP Unpatti ini melibatkan laboran perguruan tinggi dan guru biologi tingkat sekolah menengah. Mereka tidak hanya duduk mendengar materi, tetapi langsung “turun tangan” membongkar, membersihkan, hingga menyetel ulang perangkat mikroskop.
Masalah yang dihadapi pun bukan hal sepele. Tingginya kelembapan di wilayah Maluku kerap memicu pertumbuhan jamur pada lensa, yang secara langsung menurunkan kualitas pengamatan. Ditambah lagi, kerusakan mekanis yang sering dibiarkan tanpa penanganan membuat banyak mikroskop akhirnya hanya menjadi pajangan di laboratorium.
Pelatihan ini secara tegas memotong kebiasaan lama yang bergantung pada teknisi eksternal. Peserta dibekali teknik pembersihan lensa tanpa merusak lapisan optik, kalibrasi fokus kasar dan halus agar kembali presisi, hingga standar penyimpanan menggunakan dry box untuk mencegah kerusakan jangka panjang.
Perwakilan tim instruktur menegaskan, penguasaan perawatan alat oleh laboran dan guru adalah kunci efisiensi sekaligus keberlanjutan fasilitas pendidikan. Tanpa itu, anggaran pengadaan alat berpotensi terbuang percuma karena minimnya pemeliharaan.
“Laboran dan guru bukan sekadar pengguna, mereka adalah penjaga utama kualitas instrumen ilmiah. Kalau alatnya rusak, proses belajar juga ikut lumpuh,” tegas salah satu instruktur.
Antusiasme peserta terlihat saat sesi praktik langsung, mulai dari membersihkan lensa hingga bongkar-pasang bagian luar mikroskop di bawah supervisi instruktur. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibanding pelatihan berbasis ceramah yang selama ini dominan.
Langkah ini sekaligus menjadi sinyal bahwa peningkatan kualitas pendidikan sains tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik, tetapi juga penguatan kapasitas sumber daya manusia. Unpatti pun didorong menjadikan pelatihan serupa sebagai agenda rutin, agar laboratorium di kampus dan sekolah tidak sekadar ada, tetapi benar-benar berfungsi optimal.
Editor : RN-BE

