BUDAYA OLAHRAGA PEMERINTAHAN

Di Antara Euforia Piala Dunia dan Keterpurukan Sepak Bola Maluku

Share Berita

MALUKU, RN Today.com– Euforia Piala Dunia 2026 kembali menyelimuti Maluku. Layar lebar dipasang di berbagai sudut kota dan desa, mulai dari pelataran, halaman kantor, hingga kawasan pesisir. Bendera negara-negara peserta seperti Argentina, Brasil, Prancis, dan Belanda berkibar di rumah-rumah warga. Antusiasme masyarakat begitu tinggi, menyatukan berbagai kalangan dalam semangat mendukung tim favorit mereka.

Fenomena tersebut menghadirkan pemandangan menarik. Dari masyarakat di warung kopi, politisi di gedung dewan, hingga kepala daerah yang mengenakan jersey tim favorit di depan kamera, semuanya seolah menjadi analis sepak bola dadakan. Namun, di balik kemeriahan itu tersimpan ironi besar. Ketika dunia menikmati pesta sepak bola, kondisi sepak bola Maluku justru masih tertinggal jauh dari harapan.

Minimnya kompetisi yang berkelanjutan, lapangan yang belum memenuhi standar, serta lemahnya pembinaan usia dini menjadi potret nyata yang masih dihadapi Maluku. Banyak turnamen daerah yang vakum, sementara anak-anak berbakat kehilangan kesempatan untuk berkembang karena tidak adanya sistem pembinaan yang berkesinambungan. Akibatnya, banyak potensi berhenti di tengah jalan sebelum mencapai level yang lebih tinggi.

Kondisi tersebut dinilai berbanding terbalik dengan tingginya antusiasme masyarakat terhadap Piala Dunia. Meski kegiatan nonton bareng berlangsung meriah dan mendapat dukungan berbagai pihak, perhatian terhadap sepak bola lokal masih sangat minim. Kompetisi resmi yang rutin digelar masih terbatas, fasilitas olahraga belum memadai, dan sebagian besar sekolah sepak bola masih bergantung pada semangat para pelatih relawan.

Ironi lainnya terlihat ketika semangat sepak bola begitu mudah muncul saat ajang internasional berlangsung, tetapi belum sepenuhnya tercermin dalam kebijakan pembangunan olahraga daerah. Pertanyaan mengenai komitmen anggaran pembinaan usia dini, dukungan terhadap sekolah sepak bola, hingga pembangunan infrastruktur olahraga dinilai masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Padahal, Maluku sejak lama dikenal sebagai salah satu daerah penghasil pesepak bola terbaik Indonesia. Banyak pemain asal Maluku maupun keturunan Maluku yang sukses menembus kompetisi nasional bahkan memperkuat Tim Nasional Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa daerah ini tidak pernah kekurangan talenta, melainkan kekurangan sistem dan wadah untuk mengembangkan potensi tersebut.

Menurut Bung Tomson, yang dibutuhkan saat ini adalah pembinaan yang terstruktur, kompetisi berjenjang dari tingkat desa hingga provinsi, sistem pencarian bakat yang menjangkau seluruh wilayah kepulauan, serta pembangunan lapangan yang layak di setiap kabupaten dan kota. Selain itu, dukungan pemerintah, PSSI, KONI, dunia usaha, media, hingga perguruan tinggi dinilai harus disatukan dalam satu peta jalan pembangunan sepak bola Maluku.

Ia menegaskan bahwa semangat masyarakat terhadap Piala Dunia seharusnya menjadi modal besar untuk membangun sepak bola daerah. Energi yang selama ini tercurah untuk mendukung tim-tim dunia perlu diarahkan menjadi kekuatan nyata dalam membina generasi muda Maluku agar mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.

“Jangan sampai kita hanya menjadi penonton sejarah, tetapi tidak pernah menciptakan sejarah sendiri,” tegas Bung Tomson. Ia berharap, sepuluh tahun mendatang akan lahir lebih banyak pemain asal Ambon, Tual, Masohi, dan berbagai daerah di Maluku yang mampu mengangkat prestasi Tim Nasional Indonesia. Menurutnya, Maluku tidak pernah kekurangan cinta terhadap sepak bola, tetapi membutuhkan kesempatan, komitmen, dan keberpihakan untuk membuktikan potensinya

Oleh: Bung Tomson, Pemerhati Publik Maluku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *