PASAHARI, RN today.com – Krisis air bersih yang dialami warga Negeri Pasahari, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, semakin memprihatinkan. Untuk mendapatkan air yang didatangkan ke kawasan Kampung Lama, Pasahari Pantai, warga disebut harus mengeluarkan biaya hingga Rp150 ribu untuk satu tong berkapasitas sekitar 259 liter.
Menurut warga, kondisi tersebut tentu tidak mudah bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi. Bagi warga yang mempunyai uang, membeli air menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun bagi mereka yang tidak mampu, pilihan yang tersedia sangat terbatas.
“Stok air datang ke Kampung Lama, Pasahari Pantai. Satu tong sekitar 259 liter harganya Rp150 ribu. Bagi warga yang punya uang mungkin bisa beli, tapi yang tidak punya uang terpaksa harus mandi dan mencuci di sungai,” ungkap seorang warga.

Ironisnya, sungai yang menjadi pilihan warga tersebut disebut berada sekitar dua kilometer dari permukiman dan kondisi airnya kini keruh. apalgi di musim kemarau ini debet air kecil dan Warga terpaksa tetap memanfaatkannya untuk mandi dan mencuci karena tidak memiliki pilihan lain.
Kondisi ini menggambarkan beratnya kehidupan masyarakat yang selama bertahun-tahun menghadapi persoalan ketersediaan air bersih. Warga bukan hanya harus mencari air, tetapi juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air yang layak digunakan, sementara sebagian masyarakat lainnya terpaksa memanfaatkan sumber air yang kondisinya mereka nilai tidak lagi seperti dahulu.
Warga sebelumnya juga mengungkapkan bahwa kondisi air di wilayah mereka kini terasa asin dan berwarna kecokelatan. Menurut kesaksian warga, sebelum kehadiran perusahaan tambak udang yang disebut mulai beroperasi sejak 1997, masyarakat masih menikmati sumber air yang lebih bersih. Bahkan terdapat kali kecil yang dahulu mengalir dan sering digunakan warga untuk mencuci.
Warga menduga perubahan kondisi sumber air tersebut berkaitan dengan rembesan dari kawasan tambak. Namun dugaan tersebut masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan kualitas air dan kajian lingkungan oleh instansi berwenang.
Di tengah kondisi tersebut, kelangkaan minyak tanah juga ikut dikeluhkan masyarakat. Warga harus menghadapi dua persoalan kebutuhan dasar sekaligus, yakni sulitnya mendapatkan air bersih dan terbatasnya ketersediaan bahan bakar untuk kebutuhan rumah tangga.
Masyarakat mempertanyakan sejauh mana perhatian pemerintah daerah dan DPRD terhadap kondisi tersebut. Mereka berharap pemerintah turun langsung melihat kehidupan warga, bukan hanya menerima laporan dari balik meja.
Warga Pasahari juga meminta Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian terhadap persoalan yang mereka hadapi. Mereka berharap pemerintah pusat dapat melihat kondisi masyarakat di wilayah Seram yang menurut mereka telah lama menghadapi dan mengadu ke Pemerintah Daerah akan persoalan kebutuhan dasar ini.

Bagi warga, persoalan ini bukan sekadar masalah musim kemarau. Ketika satu tong air harus dibeli dengan harga Rp150 ribu dan warga yang tidak mampu harus berjalan sekitar dua kilometer untuk mandi serta mencuci di sungai yang keruh, mereka berharap negara benar-benar hadir memberikan solusi.
Warga pun mempertanyakan: sampai kapan mereka harus membeli air untuk bertahan hidup, sementara sumber air yang dahulu mereka gunakan semakin sulit diandalkan? (AS)
Editor : RN01
