MALUKU, RN Today.com – Desakan kepada Kejaksaan Tinggi Maluku untuk serius menangani dugaan korupsi proyek revitalisasi SMP Negeri 18 di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) semakin menguat. Proyek yang menelan anggaran hampir Rp 1,7 miliar itu hingga kini dilaporkan mangkrak dan baru mencapai sekitar 30 persen pembangunan.
Berdasarkan informasi di lapangan, proyek yang berlokasi di Desa Sumelang, Kecamatan Wakate tersebut tidak menunjukkan perkembangan signifikan sejak beberapa waktu terakhir. Kondisi bangunan yang terbengkalai memicu kekecewaan masyarakat, terutama para orang tua siswa yang berharap fasilitas pendidikan segera dapat digunakan.
Ketua Gerakan Pemuda Pemberantas Korupsi (GPPK) Maluku Thoriq Kapailu, menegaskan bahwa mandeknya proyek ini merupakan indikasi kuat adanya persoalan serius dalam pengelolaan anggaran. Ia meminta aparat penegak hukum tidak tinggal diam terhadap dugaan penyimpangan yang berpotensi merugikan negara.
“Jika proyek ini mangkrak, maka harus ada pihak yang bertanggung jawab. Jangan sampai uang negara sudah dikucurkan tetapi hasilnya tidak jelas,” tegasnya dalam keterangan kepada media, 06/05/2026.

Kapailu juga mendesak agar Kejati Maluku segera melakukan audit menyeluruh serta penyelidikan mendalam terhadap penggunaan anggaran proyek tersebut. Selain itu, pihak-pihak terkait seperti kepala sekolah selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan Dinas Pendidikan setempat diminta untuk dipanggil dan diperiksa.
Desakan ini muncul karena adanya dugaan aliran dana yang tidak sesuai dengan mekanisme resmi pelaksanaan proyek. Meski demikian, indikasi tersebut masih perlu dibuktikan melalui proses hukum oleh aparat berwenang.
Aktivis menilai, keseriusan Kejati Maluku sangat dibutuhkan untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran negara, sekaligus mencegah praktik korupsi di sektor pendidikan.
“Ini bukan sekadar proyek fisik, tetapi menyangkut masa depan pendidikan generasi muda di daerah. Penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan transparan,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kontraktor maupun instansi terkait mengenai penyebab utama mangkraknya proyek revitalisasi tersebut.
Editor : RN02
