AMBON, RN Today.com – Universitas Pattimura (Unpatti) bersiap menjadi pusat pertemuan pimpinan fakultas keguruan dari berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia melalui Forum Komunikasi Pimpinan (FORKOM) FKIP Negeri Se-Indonesia 2026. Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 5–8 November 2026 di Ambon ini diproyeksikan dihadiri sekitar 400 hingga 500 peserta dari 34 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) negeri.
Forum tersebut tidak hanya menjadi ajang pertemuan antara pimpinan perguruan tinggi, tetapi juga diharapkan melahirkan gagasan dan rekomendasi strategis untuk memperkuat mutu pendidikan nasional.
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unpatti, Prof. Dr. Izaak H. Wenno, menyampaikan bahwa forum ini memiliki peran penting dalam menyatukan pemikiran berbagai lembaga pendidikan tenaga kependidikan. Hasil pembahasan diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang lebih responsif terhadap kebutuhan daerah.
Menurutnya, persoalan pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kondisi nyata yang dihadapi setiap wilayah. Karena itu, pertukaran pengalaman antarfakultas keguruan menjadi kesempatan untuk merumuskan pendekatan yang lebih sesuai dengan tantangan pendidikan Indonesia.
Di Maluku, tantangan tersebut antara lain berkaitan dengan karakteristik geografis kepulauan, pemerataan tenaga pendidik, keterbatasan infrastruktur digital, serta kebutuhan penguatan kompetensi guru dan kepemimpinan kepala sekolah.
Persoalan-persoalan tersebut membutuhkan perhatian berkelanjutan agar peningkatan mutu pendidikan tidak hanya terpusat pada wilayah yang memiliki akses dan fasilitas lebih memadai.
Maluku Perlu Membawa Persoalan Daerah ke Forum Nasional
Penyelenggaraan FORKOM di Ambon membuka peluang bagi Unpatti untuk memperkenalkan persoalan pendidikan di Maluku sebagai bagian dari agenda pembahasan nasional.
Karakteristik wilayah kepulauan membuat penyelenggaraan pendidikan membutuhkan pendekatan yang tidak selalu sama dengan daerah perkotaan yang memiliki akses transportasi dan jaringan komunikasi lebih baik.
Ketersediaan guru sesuai bidang studi, misalnya, menjadi salah satu aspek penting dalam menjamin proses pembelajaran berjalan optimal. Begitu pula dengan dukungan infrastruktur digital yang dapat membantu memperluas akses pelatihan dan pendampingan bagi tenaga pendidik di wilayah yang berjauhan.
Pengembangan kurikulum yang adaptif terhadap kondisi lokal juga menjadi ruang penting untuk menghubungkan kebijakan pendidikan nasional dengan kebutuhan masyarakat daerah.
Dalam konteks Maluku, potensi maritim, perikanan, pertanian, serta kekayaan sosial dan budaya dapat menjadi sumber pembelajaran kontekstual yang memperkuat relevansi pendidikan dengan kehidupan masyarakat.
Karena itu, forum ini diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi mampu menghasilkan rekomendasi yang mempertimbangkan persoalan pendidikan di wilayah kepulauan.
Rangkaian Agenda Akademik dan Kompetisi Mahasiswa
Ketua panitia, Agust Ufie, menjelaskan bahwa kegiatan akan berlangsung selama empat hari dengan sejumlah agenda yang melibatkan pimpinan fakultas, dosen, dan mahasiswa.
Rangkaian acara direncanakan diawali dengan penyambutan peserta pada 5 November 2026. Pembukaan resmi dijadwalkan berlangsung pada 6 November 2026 di kawasan Presisi Polda Maluku, dengan rencana menghadirkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Selain pertemuan pimpinan FKIP, agenda kegiatan mencakup pembahasan bidang akademik, keuangan dan umum, kemahasiswaan, kerja sama, serta alumni.
Panitia juga menyiapkan berbagai kompetisi mahasiswa tingkat nasional dan internasional, di antaranya debat Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, kompetisi media digital dan vlog kearifan lokal, serta international microteaching.
Kegiatan tersebut akan dilengkapi konferensi internasional yang menghadirkan akademisi dari sejumlah negara, termasuk Australia, Korea Selatan, dan Hungaria. Agenda ini diharapkan memperluas pertukaran pengetahuan sekaligus membuka peluang kerja sama lintas perguruan tinggi.
Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan, panitia juga menyiapkan akomodasi peserta di sejumlah hotel di Kota Ambon.
Ujian Sesungguhnya Ada pada Tindak Lanjut
Besarnya jumlah peserta dan luasnya agenda akademik menjadi modal penting bagi pelaksanaan FORKOM FKIP Negeri Se-Indonesia 2026. Namun, nilai strategis kegiatan ini pada akhirnya akan ditentukan oleh hasil yang dapat ditindaklanjuti setelah forum berakhir.
Bagi Maluku, keberhasilan penyelenggaraan tidak cukup diukur dari kelancaran acara dan jumlah peserta yang hadir. Forum ini juga menjadi kesempatan untuk memperkuat posisi Unpatti sebagai institusi pendidikan tinggi yang berkontribusi terhadap pengembangan kebijakan pendidikan nasional.
Rekomendasi yang dihasilkan diharapkan mampu menjawab kebutuhan nyata, mulai dari penguatan kualitas calon guru, pemerataan kompetensi tenaga pendidik, pengembangan pembelajaran berbasis teknologi, hingga penyusunan kurikulum yang relevan dengan karakteristik wilayah.
Dukungan pemerintah daerah dan instansi terkait juga diperlukan agar penyelenggaraan forum dapat berjalan lancar, sekaligus memperkenalkan Ambon dan Maluku sebagai wilayah yang memiliki potensi besar dalam pengembangan pendidikan, kebudayaan, dan sumber daya manusia.
Dengan semangat “Baku Kele Toma Maju — Harmony in Diversity”, FORKOM FKIP Negeri Se-Indonesia 2026 diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang menghasilkan manfaat lebih luas daripada sekadar pertemuan antarpimpinan kampus.
Kini, tantangannya adalah memastikan gagasan yang dibahas di Ambon dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi yang jelas, kerja sama antarlembaga, serta langkah nyata untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia, termasuk di wilayah kepulauan seperti Maluku.
Editor : Admin RN
