AMBON, RN Today.com — Ketua Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan (AMPEL) Maluku, Kuba Bainauw, menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap pembangunan Jembatan Way Tomu yang dikerjakan Kodam XV/Pattimura. Ia menilai gagasan penataan kawasan yang diarahkan untuk mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tersebut patut dilihat dari perspektif kepentingan ekonomi masyarakat dan kebutuhan Kota Ambon akan ruang publik yang lebih inovatif.
Menurut Kuba, keterbatasan ruang perkotaan menjadi tantangan tersendiri bagi Ambon dalam menyediakan tempat usaha, ruang aktivitas masyarakat, serta fasilitas pendukung kegiatan ekonomi. Karena itu, inovasi pembangunan yang mampu mengoptimalkan pemanfaatan ruang secara tertata dinilai memiliki arti penting, terutama bagi pedagang kecil yang menggantungkan penghasilan sehari-hari dari aktivitas perdagangan.
Ia berpandangan bahwa pembangunan infrastruktur tidak seharusnya hanya berorientasi pada bentuk fisik, tetapi juga perlu memperhitungkan manfaat sosial dan ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat. Jika direncanakan dan dikelola dengan baik, kawasan UMKM berpotensi menjadi ruang tumbuh bagi usaha kecil, memperluas kesempatan mencari nafkah, serta meningkatkan perputaran ekonomi lokal.
Kuba menilai program yang dikerjakan Kodam XV/Pattimura dapat menjadi momentum untuk menghadirkan pendekatan pembangunan yang lebih kreatif di Kota Ambon. Namun, manfaat tersebut perlu didukung penataan kawasan yang matang agar keberadaan pedagang, pengunjung, pejalan kaki, dan pengguna kendaraan dapat terakomodasi secara aman dan tertib.
Menurutnya, keselamatan pedagang harus menjadi salah satu pertimbangan utama. Para pelaku UMKM membutuhkan tempat berusaha yang bukan hanya memberikan peluang memperoleh pendapatan, tetapi juga memiliki akses yang memadai, ruang aktivitas yang aman, dan lingkungan yang mendukung kenyamanan pembeli.
Selain itu, pengaturan lalu lintas perlu menjadi bagian penting dari perencanaan. Aktivitas perdagangan yang berkembang di kawasan perkotaan harus disertai pengaturan akses keluar-masuk kendaraan, ruang pejalan kaki, lokasi parkir, dan titik bongkar muat barang. Langkah tersebut diperlukan agar pengembangan ekonomi tidak menimbulkan gangguan terhadap kelancaran arus kendaraan maupun keselamatan masyarakat.
Kuba juga menyoroti pentingnya menghadirkan wajah baru Kota Ambon melalui pembangunan yang inovatif dan berorientasi pada kebutuhan warga. Menurutnya, penataan kawasan yang menggabungkan fungsi ekonomi, ruang publik, dan keteraturan lingkungan berpotensi memberikan nilai tambah bagi kehidupan perkotaan apabila dilaksanakan dengan perencanaan yang tepat.
“Pembangunan harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kita membutuhkan inovasi yang membuka peluang ekonomi bagi pedagang kecil, tetapi keselamatan, kenyamanan, dan kelancaran aktivitas warga juga harus menjadi perhatian,” demikian pesan utama yang ingin disampaikan dalam dukungan terhadap pengembangan kawasan Way Tomu.
Meski menyampaikan dukungan, Kuba menilai aspek teknis dan lingkungan tetap harus diperhatikan. Mengingat pembangunan tersebut berkaitan dengan kawasan sungai, kajian terhadap aliran air, keamanan konstruksi, akses pemeliharaan sungai, serta kesesuaian dengan ketentuan tata ruang perlu dipastikan oleh instansi yang berwenang.
Menurutnya, kepentingan ekonomi masyarakat dan perlindungan lingkungan tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya justru perlu dipadukan melalui perencanaan, koordinasi, dan pengawasan yang baik agar manfaat pembangunan dapat dirasakan tanpa mengabaikan keselamatan publik.
AMPEL Maluku berharap pembangunan Jembatan Way Tomu dapat menjadi ruang dialog konstruktif antara Kodam XV/Pattimura, BWS Maluku, Pemerintah Kota Ambon, dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan pembahasan yang terbuka serta pemenuhan persyaratan teknis dan hukum, pengembangan kawasan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pedagang, masyarakat, dan penataan Kota Ambon secara berkelanjutan.
Editor : RN
