Oleh : Fauzan
AMBON, RN Today.com – Rivalitas antara Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia berpotensi memperburuk stabilitas internasional karena setiap negara berusaha mempertahankan atau memperluas pengaruhnya melalui kekuatan militer, ekonomi, dan teknologi.
Dalam perspektif realisme politik, negara merupakan aktor utama dalam hubungan internasional yang berusaha mempertahankan keamanan dan kepentingan nasionalnya. Namun, ketika suatu negara meningkatkan kemampuan militernya, negara lain dapat menganggap tindakan tersebut sebagai ancaman dan meresponsnya dengan meningkatkan kekuatan militernya sendiri.
Situasi ini dikenal sebagai security dilemma atau dilema keamanan, sebagaimana dijelaskan oleh John H. Herz dalam artikelnya yang berjudul Idealist Internationalism and the Security Dilemma (1950). Artinya, tindakan yang dianggap defensif oleh satu negara dapat dipersepsikan sebagai tindakan ofensif oleh negara lain. Akibatnya, persaingan militer dapat meningkat meskipun tidak semua pihak menghendaki perang.
Persaingan di kawasan Indo-Pasifik memperlihatkan bagaimana kepentingan keamanan, kedaulatan, dan ekonomi saling berkaitan sehingga mengakibatkan ketegangan di wilayah Pasifik. Latihan militer Tiongkok di sekitar Taiwan dan penguatan kehadiran militer Amerika Serikat bersama sekutunya di kawasan Indo-Pasifik meningkatkan risiko salah perhitungan strategis. Apabila konflik bersenjata terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga oleh industri dan masyarakat di berbagai belahan dunia.
Perkembangan tersebut berpotensi memperdalam fragmentasi global, yaitu keadaan ketika negara-negara semakin terpisah ke dalam kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan strategis berbeda. Jika rivalitas tersebut semakin tajam, Indonesia dapat menghadapi beberapa konsekuensi berikut.
A. Dampak Ekonomi
– Kenaikan harga minyak dan gas apabila pasokan energi global terganggu.
– Peningkatan biaya impor bahan baku, pangan, dan barang industri.
– Gangguan perdagangan internasional dan rantai pasok semikonduktor.
– Penurunan kepercayaan investor akibat ketidakpastian geopolitik.
B. Dampak Pasar Keuangan
– Tekanan terhadap nilai tukar rupiah apabila dolar AS menguat dan arus modal keluar meningkat.
– Potensi penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat meningkatnya penghindaran risiko oleh investor.
– Kenaikan biaya pembiayaan bagi pemerintah dan perusahaan apabila premi risiko meningkat.
Dampak tersebut tidak selalu terjadi secara bersamaan. Pergerakan rupiah dan IHSG juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik, kebijakan moneter, neraca perdagangan, dan sentimen investor.
C. Dampak Pertahanan dan Diplomasi
– Meningkatnya kebutuhan untuk memperkuat pertahanan maritim.
– Bertambahnya tantangan dalam menjaga kedaulatan dan hak berdaulat Indonesia.
– Meningkatnya tekanan diplomatik agar Indonesia mendukung kepentingan salah satu kekuatan besar.
Rivalitas kekuatan besar juga dapat menjadi ancaman nyata apabila persaingan kepentingan berkembang menjadi perlombaan senjata, perang ekonomi, dan konflik terbuka yang mengorbankan kepentingan masyarakat internasional.
Menurut pandangan saya, rivalitas antara Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia bukan sekadar pertarungan kekuatan militer antarnegara besar. Fenomena ini merupakan pertarungan dalam menentukan arah tatanan dunia, penguasaan sumber daya strategis, kendali teknologi, dan pengaruh terhadap negara-negara berkembang.
Dalam situasi tersebut, Indonesia menghadapi persoalan mendasar: apakah kita akan menjadi negara yang mampu menentukan arah kebijakan sendiri atau justru menjadi negara yang terus menyesuaikan diri dengan kepentingan kekuatan eksternal?
Bagi saya, persoalan terpenting bukanlah menentukan siapa yang paling kuat di antara Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana Indonesia memastikan bahwa perubahan keseimbangan kekuatan dunia tidak mengorbankan kepentingan rakyatnya.
Saya memandang bahwa politik luar negeri bebas aktif harus diwujudkan sebagai strategi yang nyata, bukan sekadar slogan diplomatik. Indonesia perlu menjalin hubungan dengan berbagai negara, tetapi hubungan tersebut harus memberikan manfaat konkret berupa peningkatan kesejahteraan, penguatan industri nasional, penguasaan teknologi, dan perlindungan terhadap kedaulatan.
Netralitas yang tidak didukung oleh kemampuan ekonomi dan pertahanan dapat membuat suatu negara rentan terhadap tekanan. Sebaliknya, negara yang memiliki fondasi ekonomi kuat, institusi yang kredibel, dan masyarakat yang sejahtera mempunyai ruang lebih besar untuk menentukan sikapnya secara mandiri.
Saya juga berpandangan bahwa ketahanan nasional tidak boleh hanya diukur berdasarkan kemampuan pemerintah menghadapi ancaman militer. Ketahanan nasional harus dilihat dari kemampuan negara memastikan rakyat tetap memperoleh pangan yang terjangkau, lapangan kerja yang layak, akses pendidikan, serta perlindungan ketika krisis global terjadi.
Sebab, ketika harga energi meningkat, nilai tukar melemah, dan investasi mengalami perlambatan, dampaknya tidak berhenti pada angka statistik ekonomi. Dampak tersebut dapat dirasakan oleh petani, nelayan, pekerja, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mahasiswa, serta keluarga yang penghasilannya terbatas.
Oleh karena itu, pemerintah harus mampu menerjemahkan strategi geopolitik ke dalam kebijakan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Bagi saya, ukuran keberhasilan politik luar negeri Indonesia bukanlah seberapa dekat Indonesia dengan negara adidaya tertentu, melainkan seberapa besar kemampuan Indonesia mempertahankan kedaulatan, memperjuangkan perdamaian, dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
Indonesia harus mampu bekerja sama tanpa kehilangan independensi, membangun hubungan tanpa menciptakan ketergantungan yang berlebihan, serta memperjuangkan perdamaian tanpa mengabaikan kepentingan nasional.
Pada akhirnya, Indonesia tidak harus menjadi negara adidaya untuk memiliki pengaruh dalam tatanan dunia. Indonesia harus menjadi negara yang memiliki prinsip, kemampuan, dan keberanian untuk menentukan masa depannya sendiri.
Editor: RN
